Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

Sejarah Pembangunan Ka’bah

Posted by d12kt pada 8 Oktober 2011

Allah Swt. berfirman: Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo’a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. al-Baqarah : 127).

Sepintas lalu bahwa ayat di atas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim adalah orang yang pertama membangun Ka’bah di permukaan bumi ini, seperti dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Padahal bila dicermati, sebelum Nabi Ibrahim menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka’bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata “Yarfa’u” meninggikan berarti meninggikan bangunan yang suda ada.

Para ahli sejarah mengatakan, setidaknya ada dua belas generasi yang ikut berjasa dalam membangun Ka’bah yang ada sampai saat sekarang ini.

Pertama Generasi Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam diciptakan Malaikat sudah membangun Ka’bah di bumi ini atas perintah Allah Swt. Di dalam Alquran dijelaskan bahwa ketika Allah Swt, hendak menciptakan Nabi Adam as, Allah Swt. berfirman kepada malaikat : Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi, lalu para malaikat bertanya: Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah di muka bumi ini, orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau. (QS. al-Baqarah : 30). Ketika itu Allah menjawab: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (QS. al-Baqarah: 30).

Para ahli sejarah dan ahli Tafsir mengatakan bahwa para malaikat merasa cemas bila diciptakan manusia di permukaan bumi, mereka akan berbuat kerusakan dan menodai bumi dengan pertengkaran dan pertumpahan darah, melihat pada tipe jin yang sudah lebih dulu diciptakan dari Nabi Adam as. yang karakternya tidak jauh berbeda dengan karakter manusia yang notabenenya mempunyai hawa nafsu. Kekhawatiran para malaikat itu wajar saja terjadi karena mereka diciptakan untuk taat dan patuh kepada Allah Swt. tidak mendurhakainya sesuai dengan asal ciptaannya dari cahaya dan tidak mempunyai hawa nafsu, kekhawatiran dan pertanyaan para malaikat tersebut tidak dapat ditafsirkan sebagai kedurhakaan malaikat kepada Allah sebagaimana diduga oleh sebahagian kaum orientalis. Kecemasan malaikat tersebut kandas ketika Allah Swt menjawab: Aku lebih tau terhadap apa yang tidak kamu ketahui.

Karena takut akan murka Allah Swt., para malaikat tidak bertanya lagi siapa yang layak dijadikan khalifah di bumi, manusia atau malaikat, maka para malaikat segera mohon ampun dan ridha Allah Swt. karena Arasy Allah Swt. cukup besar, maka dengan Rahman dan Rahim Allah Swt. Dia membangun Baitul Makmur di bawah Arasy untuk tempat mereka mengerjakan tawaf, dan lebih meringankan dan memudahkan mereka setiap hari. Para malaikat mengerjakan tawaf silih berganti siang dan malam sehingga tidak kurang dari 7000 malaikat yang mengelilingi Baitul Makmur setiap harinya, bahkan menurut riwayat ada di antara malaikat yang hanya dapat tawaf sekali saja, dan tidak dapat lagi mengelilingi tawafnya karena sesaknya Baitul Makmur yang dibangun oleh Allah dari Zabrajad yang bertahtakan Yakut berwarna merah itu (Akhbar Makkah Muhammad Al Arzaqi (1988: 32). Maka dengan Rahman dan Rahim Allah Swt. diperintahkan kepada malaikat untuk membangun Ka’bah di bumi yang persis seperti Baitul Makmur di bawah Arasy, besar dan ukurannya sama, posisinya setentang dengan Ka’bah di bumi, andaikata dijatuhkan sebuah batu dari Baitul Makmur ke Ka’bah akan sampai ke tengah-tengah Ka’bah.

Riwayat menceritakan bahwa Ka’bah pada masa itu terletak di atas buih yang keras, yaitu benda pertama yang muncul di bumi ini, Maha Benarlah Allah Swt. yang telah berfirman: Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun di muka bumi ini adalah di Makkah. (QS. Ali Imran: 96). Sekaligus sebagai bantahan pada orang-orang Nasrani bahwa rumah yang pertama dibangun adalah Baitul Maqdis. Itu generasi pertama pembangunan Ka’bah, dan dilanjutkan oleh generasi Kedua yaitu Nabi Adam as. setelah dia keluar dari dalam surga, dan menetap di bumi melaksanakan tawaf, dan merenofasi bangunan Ka’bah, memohon ampun kepada Allah Swt.

Atas kekhilafan yang telah dilakukannya. Beliaulah manusia pertama merenofasi bangunan Ka’bah dan tawaf di Ka’bah Ibnu Abbas. (Ibid: 37). Generasi Ketiga dilanjutkan oleh putra Nabi Adam Alaihissalam bernama Syis, setelah Nabi Adam as. wafat. Bangunan ketika itu terdiri dari tanah dan batu, dan bangunan tersebut dapat bertahan sampai Nabi Nuh Alaihissalam, ketika “Tsunami besar” terjadi pada masa Nabi Nuh Alaihissalam, Ka’bah roboh dan porak poranda sampai pada generasi ketiga ini menurut ahli sejarah, tidak dijumpai keterangan di dalam Alquran dan hadits-hadits Shahih, baru Pada generasi keempat yaitu generasi Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. dicantumkan sejarahnya di dalam Alquran di antaranya ayat 127 surat al-Baqarah seperti di bawah judul di atas.

Ayat di atas menceritakan generasia keempat merenofasi Ka’bah dengan meninggikan pondasi yang tertimbun oleh banjir pada zaman Nabi Nuh Alaihissalam, setelah pembangunan Ka’bah diselesaikan oleh Nabi Ibrahim dia berdo’a kepada Allah agar karyanya itu diterima oleh allah Swt. (al-Baqarah 127). Selanjutnya dilanjutkan oleh suku Amaliqah yang berasal dari Yaman, hampir tidak ada perombakan pada bangunan Ka’bah, karena suku Amaliqah ini hanya memperbaiki yang runtuh dan rusak saja. Sebab itu para ahli sejarah ada yang mengatakan bukan termasuk membangun, akan tetapi pendapat yang lebih meyakinkan, Amaliqah termasuk generasi kelima pembangunan Ka’bah. Generasi keenam adalah suku Jurhum yang dipimpin oleh raja mereka yang bernama Madhad bin Umar bin Haris bin Madhad bin Umar Al Jurhum. Mereka memperbaiki bangunan yang roboh yang pernah diperbaiki oleh Amaliqah.

Selanjutnya adalah generasi ketujuh yaitu generasi Qushai bin Kilab dari Bani Kinanah. Beliau adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya, pembangunan Ka’bah yang dilakukan oleh Qusyai adalah perubahan pada dinding Ka’bah dan memberi atap Ka’bah berupa pelepah-pelepah tamar. Generasi kedelapan adalah Abdul Muthalib kakek Rasul Saw. dan generasi kesembilan adalah suku Quraisy. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, manakala Ka’bah terbakar pada masa Jahiliyah maka orang-orang Quraisy merobohkannya agar dibangun kembali (Akbar Makkah : 173). Hingga batas generasi Abdul Muthalib masih dapat dilacak: Kitab-kitab sejarah yang menjelaskan sejarah Ka’bah yang mulia. Selanjutnya generasi kesepuluh yaitu cucu dari Khalifah Abu Bakar Sidik yang bernama Abdullah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar ra. Abdullah bin Jubir mempertinggi bangunan Ka’bah dari 9 hasta menjadi 27 hasta dan juga meninggikan pintu Ka’bah dan memberi atap Ka’bah dengan rapi.

Selanjutnya generasi kesebelas, pada masa khalifah Malik bin Marwan yaitu pada tahun 74 H. dan generasi ang kedua belas di sempurnakan oleh Sultan Murad Khan, raja Turki yang berkuasa pada ketika itu tahun 1040 H. ketika terjadi banjir besar di kota Makkah sehingga air masuk ke dalam bangunan Ka’bah dan merobohkan bangunannya, dan dinding sebelah Barat dan Timur Ka’bah roboh akibat banjir besar tersebut. Banjir tersebut bukan saja merobohkan Ka’bah tapi memakan korban manusia dan ternakternak penduduk Makkah. Maka setelah mengadakan musyawarah dengan para ulama Makkah, Sultan Murad Khan mengambil keputusan untuk membangun dan memperbaiki Ka’bah dengan biaya kekayaan yang ada di dalam Ka’bah, berupa emas, perak dan permata. Sehingga jadilah bengunan yang ada seperti sekarang ini, yang dirindukan oleh setiap muslim untuk mengunjunginya, dengan berjalan kaki, atau naik kendaraan baik melalui darat, laut dan udara dalam rangka menunaikan ibadah umroh dan haji. Semoga mendapat haji mabrur. Wallahua’lam. (waspada)

Dari: http://www.hasanjufri.com

 

SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 127

Muhammad Rusli Malik

 

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

[Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.]

[And when Ibrahim and Ismail raised the foundations of the House: Our Lord! accept from us; surely Thou art the Hearing, the Knowing.]

1). Ini adalah kata إِذْ (idz, ketika) yang kesembilanbelas.Dan yang keempat dalam rangkaian ayat tentang Nabi Ibrahim dan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya. Dan isinya hanya satu macam. Yaitu mengingatkan kita ketika Nabi Ibrahim bersama putranya, Ismail, meninggikan dinding-dinding الْبَيْت (al-bayt). Seperti telah diuraikan sebelumnya (ayat 125) bahwa الْبَيْت (al-bayt) yang ada di Masjidil Haram, Mekah, merupakan Rumah Ibadah pertama yang didirikan di muka bumi oleh Nabi Adam as. Tetapi kemungkinan besar pada saat banjir bandang di zaman Nabi Nuh mengalami kerusakan parah, dan sejak itu terlantar tak terawat sampai kemudian Nabi Ibrahim diperintah membawa anak dan istrinya ke sana untuk menghidupkannya kembali. Ayat 127 ini menjelaskan tentang prihal berlangsungnya ‘proyek’ renovasi dan pemugaran itu, yang meski dilakukan oleh hanya dua orang tetapi keduanya adalah Nabi Besar dan sekaligus Bapak dari nabi-nabi dan imam-imam yang datang sesudahnya: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Pekerjaan ini kelihatannya bukan pekerjaan biasa, sebab aktivitas ketiganya (Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Hajar) kemudian dilestarikan menjadi ritual ibadah yang disebut Manasik Haji dan Umrah. Kalau kita menunaikan ibadah haji atau umrah, yang kita tunaikan sesungguhnya adalah melakoni kembali atau menapaktilasi aktivitas mereka selama dan sesudah berlangsungnya ‘proyek’ renovasi dan pemugaran tersebut. Tawaf adalah ‘pekerjaan’ Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang berputar-putar di sekeliling الْبَيْت (al-bayt)  atau Ka’bah saat meletakkan batu demi batu hingga mencapai ketinggian tertentu seperti yang diperintahkan oleh Allah. I’tikaf adalah masa-masa ‘istirahat’ mereka seraya merenungkan kembali ‘pekerjaan’ monumental mereka. Salat adalah ritual rukuk dan sujud yang mereka lakukan secara rutin di setiap selesai masa ‘pekerjaan’ dalam satu hari.  “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: ‘Sucikanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaaf, dan yang rukuk- sujud’.” (ayat 125) Sedangkan sa’i (berlari-lari kecil antara Shafa dan Marwah) adalah ‘perbuatan’ Hajar untuk menyiapkan makan-minum buat anak dan suaminya yang sibuk bekerja.

Inilah satu paket pembanguan fisik dan ruhani sekaligus. Inilah contoh dimana seluruh amal perbuatan manusia bernilai ibadah, menjadi bagian dari persembahan kepada Allah. Inilah ibadah yang memberi pesan yang teramat sangat kuat bahwa dikotomi, dualisme dan pemisahan hidup (antara dunia dan akhirat, fisik dan ruhani, material dan spiritual, yang profan dan yang transenden) tidak ada tempatnya dalam agama Ibrahim, tidak bernilai di dalam Islam. Bahwa مِّلَّة إِبْرَاهِيمَ (millah ibrāɦim) tidak mengenal sekularisme dan pemengggalan-pemenggalan hidup seperti itu. Bahwa مِّلَّة إِبْرَاهِيمَ (millah ibrāɦim) menghimpun seluruh komponen-komponen kehidupan menjadi satu kesatuan yang utuh, integral dan holistik. Dan الْبَيْت (al-bayt) yang suci harus menjadi pusat pelaksanaan peran-peran integral dan holistik seperti itu. Dan hanya Nabi Ibrahim beserta ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya yang suci yang pantas dan berhak memimpin pelaksanaan peran-peran itu. “Dan berjihadlah kalian pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kalian dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untukmu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) مِّلَّة  (millah) orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kalian muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kalian semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah salat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (22:78)

2). Yang menarik ialah penggunaan kata يَرْفَعُ (yarfa’u) dan الْقَوَاعِدَ (al-qawā’id). Di terjemahan, kata يَرْفَعُ (yarfa’u) diartikan “meninggikan” dalam pengertian membina atau membangun. Tapi bisa juga berarti “memuliakan” atau “mengutamakan” dalam pengertian menaikkan derajat. Di dalam al-Qur’an kata ini hanya 3 (tiga) kali muncul (2:127, 35:10, 58:11). Dua ayat terakhir sama-sama bermakna “memuliakan” atau “mengutamakan”: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan Dia mengangkat amal yang saleh (ke tempat yang mulia). Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur” (35:10). “Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis’, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (58:11). Ketika Nabi Ibrahim telah membuktikan imannya yang tak bercampur lagi dengan kezaliman walau hanya sedikit kepada kaumnya (6:80-83), Allah kemudian memujinya degan menggunakan kata yang sama, نَرْفَعُ (narfa’u): “Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (6:83) Sedangkan kata الْقَوَاعِد (al-qawā’id) adalah bentuk jamak dari kata القاعدة (al-qā’idah) yang secara harafiah—menurut Kamus al-Mawrid al-Qareeb—bermakna “rule, precept, maxim; base, basis, foundation; grammar”. Kata الْقَوَاعِد (al-qawā’id) juga digunakan 3 (tiga) kali (2:127, 16:26, 24:60). Di 16:26 الْقَوَاعِد (al-qawā’id) diartikan dengan “pondasi”, sedangkan di 24:60  diartikan dengan “wanita menopause” (wanita yang tidak bisa lagi haid dan mengandung, alias tidak produktif).

Dengan demikian, kalimat يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ (yarfa’u ibrāɦimul-qawā’ida minal-bayti wa ismā’ilu, Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail),   selain bisa diartikan secara fisik—yaitu renovasi dan pemugaran Kakbah—juga bisa diartikan secara simbolik. Yaitu bahwa الْبَيْت (al-bayt) yang selama ini terbengkalai dan tidak produktif lagi (bagai wanita menopause) secara spiritual dan soial, secara teologis dan humanis, kini diangkat dan ditinggikan kembali derajat kemuliaannya di mata manusia oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. “Allah telah menjadikan Kakbah, rumah suci itu sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia, dan (demikian pula) bulan Haram, hadya, qalaid. (Allah menjadikan yang) demikian itu agar kamlian tahu, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (5:97).

3). Setelah itu, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail berdoa. Ini menunjukkan begitu pentingnya mengiringi suatu kegiatan (ibadah dan muamalah) dengan doa. Dan doa ini dipanjatkan bersama-sama atau berjamaah oleh keduanya. Hal itu bisa dilihat dari penggunaan kata “kami” di dalam doanya: رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (rabbanā taqabbal minnā innaka antas-samĭy’ul-‘alĭym, Ya Tuhan kami terimalah dari kami (amalan kami ini), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui). Yang Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail minta ialah agar Allah berkenan menerima amalan keluarganya dalam ‘membangun’ dan ‘menghidupkan’ kembali الْبَيْت (al-bayt). Begitu pentingnya sampai-sampai doa Nabi Ibrahim dan Ismail ini ditempatkan oleh Allah di beberapa ayat yang berbeda (ayat 127, 128 dan 129). Dan tentu saja ini bukan sekedar doa. Ini juga pasti mengandung pesan; bahwa kalau Allah saja diminta berkenan menerimanya, apatah lagi generasi-generasi agama ibrahimik yang datang kemudian. Maka siapa saja yang merendahkan nilai dari الْبَيْت (al-bayt) ini dengan cara ‘mengubur’-nya dengan timbunan bangunan-bangunan kapitalistik-komersialistik, sama saja dengan menolak doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tersebut, dan cepat atau lambat niscaya mereka akan mendapatkan tulanya. “Di antara orang-orang Arab Badwi itu, ada yang memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) sebagai suatu kerugian dan dia menanti-nanti marabahaya menimpamu (Muhammad); merekalah yang akan ditimpa marabahaya. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (9:98)

3). Kalau kita memahami kata يَرْفَعُ (yarfa’u) dalam pengertian simboliknya, yang berarti “menaikkan derajat kemuliaannya”, dan kata الْقَوَاعِدَ (al-qawā’id) berarti “basis” atau “pondasi”; maka pekerjaan renovasi dan pemugaran tersebut harus juga bisa dilihat sebagai aktivitas yang berangkat dari basis kemanusiaan kita yang paling asasi, fithrah, untuk mencapai derajat kesempurnaan. Dan tawaf, yang disimbolkan dengannya, adalah ‘gerak’ atau mujahadah tanpa henti untuk menuju ke derajat kesempurnaan tersebut, yakni derajat Insan kamil, seperti yang telah dicapai oleh Nabi Ibrahim dan Ahlul Bait-nya. “Dan tidak ada yang benci kepada millah Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh” (2:130).

4). Demikian mulianya nilai dari الْبَيْت (al-bayt) tersebut. Sayangnya الْبَيْت (al-bayt) ini pernah mendapat serangan membabibuta hingga rusak berat dan terbakar pada zaman Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Mari kita simak nukilan Imam as-Suyuthi di dalam Tarikh Khulafa’-nya: “Adz-Dzahabi berkata: Tatkala Yazid melakukan kekejian terhadap penduduk Madinah—dengan sambil meminum minuman keras dan melakukan kemungkaran—banyak orang yang semakin benci kepadanya dan banyak yang memberontak. Dan Allah sama sekali tidak memberkahi umurnya. Kemudian  pasukan Harrah (bentukan Yazid, pen) berangkat menuju Mekah untuk memerangi Abdullah bin Zubair…. Tentara itu datang ke Mekah. Mereka memerangi Andullah bin Zubair dan melemparinya dengan manjaniq (panah berapi, pen). Peristiwa ini terjadi pada bulan Shafar tahun 64H. Karena lemparan manjaniq yang mengandung api mengakibatkan sebagian penutup Kakbah terbakar, atap-atap Kakbah dan dua tanduk domba yang merupakan tanduk domba kurban Nabi Ibrahim juga ikut terlalap api. Kedua tanduk tersebut saat itu berada di atap Kakbah. “ (Tarikh Khulafa’, Imam as-Suyuthi, Penerjemah: Samson Rahman, MA, Penerbit: Pustaka al-Kautsar, Jakarta, Cetakan ketujuh, 2010, hal.248) Pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan ini pulalah yang membantai dan memenggal kepala ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan) Rasulullah, al-Husain, sebelumnya di Karbala. Hebatnya lagi, sebagian kalangan melegitimasi Yazid sebagai salah satu Khalifah Islam dan menggelarinya Amirul Mu’minin. Padahal Allah telah berfirman dengan teramat sangat jelas: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (4:93)

http://www.mafatihuljinan.org/index.php?option=com_content&view=article&id=233:surat-al-baqarah-2-ayat-127&catid=50:tafsir-al-barru&Itemid=93

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: