Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

PERISTIWA-PERISTIWA PELEDAKAN BOM DALAM TIMBANGAN ISLAM

Posted by d12kt pada 17 April 2011

Segala puji milik Allah semata. Hasil akhir hanya untuk orang-orang yang
bertaqwa. Tiada permusuhan, kecuali kepada orang-orang yang zhalim lagi
melanggar batasan-batasan agama. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah
kepada Imam para rasul, Nabi kita Muhammad, serta kepada keluarga dan seluruh
sahabatnya.

Peristiwa menyakitkan dan aksi peledakan yang terjadi di kota Riyadh pada malam
Selasa tanggal 12/3/1424H (13 Mei 2003M, Red.) telah menewaskan sejumlah orang
yang tak bersalah dan menimbulkan kerugian material termasuk tindakan kriminal;
satu jenis kezhaliman dan permusuhan serta sebagai bentuk perusakan di muka
bumi. Termasuk perbuatan yang menyelisihi ajaran agama Islam yang lurus dalam
tujuan-tujuannya yang mulia, hukum-hukumnya yang adil, dan adab-adabnya yang
santun.

Berikut ini pemaparan dalil-dalil syariat yang menunjukkan kekeliruan aksi ini,
kejahatannya yang sangat keji, serta penjelasan perihal perbuatan kriminal ini
dan hukumnya dalam timbangan Islam.

1. Dalam ajaran Islam, terdapat perintah agar berlaku adil, berbuat ihsan, dan
bersikap rahmah (belas kasih), dan larangan melakukan kemungkaran dan
permusuhan.

Sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى
وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَذَكَّرُونَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi
kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan
permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil
pelajaran”. [An Nahl : 90].

Sedangkan aksi kriminal ini, sama sekali tidak memiliki unsur-unsur keadilan,
ihsan, dan rahmah; bahkan sebaliknya, aksi ini merupakan perbuatan mungkar dan
tindak permusuhan.

2. Dalam ajaran Islam, diharamkan bertindak melampaui batas dan larangan berlaku
zhalim.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَلاَ تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُعْتَدِين

“… dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang melampaui batas. [Al Baqarah : 190].

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ
مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا

“Wahai, hamba-hambaKu. Sesungguhnya Aku haramkan diriKu berlaku zhalim, dan Aku
telah jadikan zhalim perbuatan yang diharamkan antara kalian. Maka janganlah
kalian saling berbuat zhalim”.

Sedangkan aksi ini dilaksanakan atas dasar tindakan melampaui batas dan dibangun
di atas dasar kezhaliman.

3. Dalam ajaran Islam diharamkan aksi perusakan di muka bumi.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

وَإِذَا تَوَلَّى سَعَى فِي الأَرْضِ لِيُفْسِدَ فِيهَا وَيُهْلِكَ الْحَرْثَ
وَالنَّسْلَ وَاللَّهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan apabila dia berpaling (dari kamu), dia berjalan di bumi untuk mengadakan
kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, padahal Allah
tidak menyukai kebinasaan”. [Al Baqarah : 205].

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لاَ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ
مُصْلِحُونَ

“Dan bila dikatakan kepada mereka: “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka
bumi,” mereka menjawab: “Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan
perbaikan”. [Al Baqarah : 11]

Dan aksi ini merupakan salah satu bentuk perusakan di muka bumi, bahkan termasuk
bentuk perusakan yang paling parah.

4. Di antara kaidah-kaidah Islam yang agung adalah “menolak bahaya”.

Di antara dalil yang menunjukkan kaidah ini, yaitu sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh lebih dari seorang sahabat beliau,

لاَ ضَرَرَ ولاَ ضِرَار

“Tidak boleh (satu pihak) membahayakan (pihak lain), dan tidak boleh (keduanya)
saling membahayakan”.

Dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan selainnya dari Abu Shirmah, salah seorang
sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dia berkata.

مَنْ ضَارَّ أَضَرَّ اللَّهُ بِهِ وَمَنْ شَاقَّ شَاقَّ اللَّهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa (sengaja) membahayakan (seseorang), maka Allah akan mendatangkan
bahaya kepadanya, dan barangsiapa (sengaja) menyusahkan (seseorang), maka Allah
akan menurunkan kesusahan kepadanya”

Meskipun sanadnya diperbincangkan, tetapi makna yang dikandungnya benar, karena
“balasan yang diterima setimpal dengan amalnya” dan sebagaimana kata pepatah
‘dua tangan akan bertemu dua tangan’. Jadi, tidak halal seorang muslim
membahayakan muslim yang lain, baik dengan ucapan maupun perbuatannya.
Sedangkan perbuatan mereka itu, dilakukan dalam bentuk aksi yang sangat
membahayakan (orang lain) dan sangat keji.

5. Dan di antara kaidah Islam adalah “memberikan kemaslahatan dan mencegah
kemudaratan”. Adapun aksi orang-orang itu, sedikitpun tidak memberikan maslahat
dan manfaat, sementara mudaratnya tidak terbilang.

6. Dalam ajaran Islam terdapat pengharaman bunuh diri.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا وَمَنْ
يَفْعَلْ ذَلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا وَكَانَ ذَلِكَ
عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada
kalian. Dan barangsiapa yang berbuat demikian dengan melanggar hak dan berlaku
aniaya, maka Kami kelak akan masukkan ia ke dalam neraka. Yang demikian itu
adalah mudah bagi Allah”. [An Nisa’ : 29-30].

Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu, dia berkata,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda.

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
يَتَرَدَّى فِيهَا خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا
فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا
مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي
يَدِهِ يَتَوَجَّأُ فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا
أَبَدًا

“Barangsiapa yang sengaja menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati, maka dia
di neraka Jahannam, dia menjatuhkan diri di neraka itu, kekal selama-lamanya.
Barangsiapa yang sengaja menenggak racun hingga mati, maka racun itu tetap di
tangannya dan dia menenggaknya di dalam neraka Jahannam, dia kekal
selama-lamanya. Dan barangsiapa yang membunuh dirinya dengan besi, maka besi itu
akan ada di tangannya dan dia tusuk-tusukkan ke perutnya di neraka Jahannam, dia
kekal selama-lamanya”.

Dan orang-orang ini membunuh diri mereka sendiri dalam aksi kriminal yang
diingkari (orang banyak).

7. Dalam ajaran Islam, diharamkan membunuh jiwa seorang muslim tanpa alasan yang
benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَلاَ تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan
dengan suatu (alasan) yang benar”. [Al Isra’ : 33]

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman tentang sifat-sifat orang-orang yang
beriman, yaitu para hamba Allah Yang Maha Penyayang.

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا ءَاخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ
النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَنْ
يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا ؛ يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا ؛

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak
membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang
benar, dan tidak berzina, barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia
mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya
pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu dalam keadaan terhina”. [Al
Furqan:68-69].

Di dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Ibnu Mas‘ud dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

لاَ يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ
وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلاَّ بِإِحْدَى ثَلاَثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي،
وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ

“Tidak halal ditumpahkan darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa tidak
ada ilah (yang hak) selain Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah, kecuali
salah satu dari yang tiga ini: orang yang berzina (padahal dia telah
berkeluarga), orang yang membunuh orang lain, dan orang yang murtad meninggalkan
jamaah kaum muslimin”.

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ قَتْلِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ

“Lenyapnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada pembunuhan seorang
muslim”.

Lantas berapa banyakkah orang muslim yang terbunuh dalam aksi keji ini?

8. Islam datang membawa rahmat (bagi alam). Orang yang tidak menyayangi tidak
akan disayangi. Dan orang-orang yang penyayang akan disayang oleh Yang Maha
Penyayang. Banyak hadits yang menjelaskan makna-makna ini.

Dalam Sunan Tirmidzi dan selainnya terdapat riwayat dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ

“Tidaklah tercerabut rahmat (rasa belas kasih), kecuali dari (hati) orang yang
celaka”.

Bahkan rahmat itu juga meliputi atas hewan ternak dan makhluk melata lainnya.
Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Adab Al Mufrad dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

مَنْ رَحِمَ وَلَوْ ذَبِيحَةً رَحِمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang merahmati (kasih sayang) walau kepada hewan sembelihan
sekalipun, maka Allah akan merahmatinya pada hari kiamat”.

Beliau juga meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki berkata,”Wahai,
Rasulullah. Saya telah menyembelih seekor kambing dan saya merahmatinya,”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَالشَّاةُ إِنْ رَحِمْتَهَا رَحِمَكَ اللَّهُ

“Dan jika engkau bersikap rahmah kepada seekor kambing, Allah akan merahmatimu”.

Pernah ada seorang laki-laki (dari Bani Israil) yang diampuni dosanya karena
sikap rahmah (belas kasih)nya kepada seekor anjing yang dilihat sedang menjilati
tanah basah karena sangat hausnya. Lalu laki-laki itu turun ke sebuah sumur,
mengisi penuh sepatunya dengan air. Dengan menggigit sepatu itu, dia naik dan
memberikannya kepada anjing tersebut. Maka, Allah pun memujinya lalu
mengampuninya. Hadits ini terdapat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Abu Dawud dan selainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas‘ud Radhiyallahu ‘anhu , bahwa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah singgah di suatu tempat. Ketika itu
ada seorang laki-laki yang mengambil telur-telur seekor burung humarah. Lalu
burung itu terbang berputar-putar di atas kepala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Maka beliau bertanya,”Siapa di antara kalian yang mengganggu
telur-telur burung ini?” Maka laki-laki tadi menjawab,”Saya yang mengambilnya,”
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Kembalikan sebagai sikap rahmah
kepadanya.”

Renungkanlah sikap rahmah (kasih sayang) yang luhur yang diserukan Islam, lalu
renungkanlah apa yang dilakukan oleh para pelaku perbuatan keji ini; anak-anak
menjadi yatim, banyak wanita menjadi janda, jiwa melayang sia-sia, hati menjadi
takut, dan harta benda musnah, lalu di mana rahmat Islam ? Jika mereka mau
memikirkannya.

9. Dalam ajaran Islam, terdapat larangan menakut-nakuti (intimidasi) dan meneror
orang-orang Islam.

Di dalam Sunan Abu Dawud diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa beliau bersabda.

لاَ يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal seorang muslim menakut-nakuti muslim yang lain”.

Lantas, berapa banyak orang muslim yang telah ditakut-takuti, diintimidasi, dan
disakiti (dengan aksi keji) malam itu?

10. Dalam ajaran Islam terdapat larangan menghunus senjata kepada kaum mukminin.

Dalam Musnad Imam Ahmad terdapat riwayat dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dari
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

مَنْ حَمَلَ عَلَيْنَا السِّلاَحَ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang membawa senjata untuk menyerang kami, maka dia bukan dari
kami”.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim diriwayatkan dari Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda.

إِذَا مَرَّ أَحَدُكُمْ فِي مَسْجِدِنَا أَوْ سُوقِنَا بِنَبْلٍ فَلْيُمْسِكْ عَلَى
أَنْصَالِهَا، لاَ يُصِبْ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ أَذًى

“Apabila salah seorang dari kalian lewat di masjid atau pasar dengan membawa
anak panah, maka hendaknya dia memegang ujungnya agar tidak melukai seorang pun
dari kaum muslimin”.

Sedangkan dalam aksi kriminal ini terjadi peledakan bom-bom penghancur dan
senjata perusak di tengah-tengah kaum muslimin dan di tempat-tempat tinggal
mereka.

11. Dalam Islam terdapat larangan memberi isyarat dengan senjata atau
sebangsanya, baik dengan sungguh-sungguh maupun senda gurau, dan larangan
membawa senjata dalam keadaan terhunus demi menjaga keselamatan manusia.

Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim terdapat riwayat dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

لاَ يُشِيرُ أَحَدُكُمْ إِلَى أَخِيهِ بِالسِّلاَحِ فَإِنَّهُ لاَ يَدْرِي لَعَلَّ
الشَّيْطَانَ يَنْزِعُ فِي يَدِهِ فَيَقَعُ فِي حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ

“Janganlah ada salah seorang dari kalian memberi isyarat kepada saudaranya
dengan senjata, karena dia tidak tahu boleh jadi syaitan”.

Dalam riwayat Muslim.

مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى
يَنْزِعَ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ

“Barangsiapa memberi isyarat kepada saudaranya (untuk menakutinya) dengan
sebatang besi, maka dilaknat oleh malaikat sampai ia meninggalkan perbuatan
tersebut, meskipun orang yang ditakut-takuti itu adalah saudara kandung”.[2]

12. Dalam ajaran Islam, diharamkan bersikap khianat dan melanggar janji.

Allah berfirman.

إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْخَائِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat”. [Al Anfal:58].

إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ خَوَّاناً أَثِيماً

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi
bergelimang dosa”. [An Nisa’:107]

Dalam Shahih Muslim disebutkan sebuah riwayat dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غَدْرَتِهِ

“Setiap penghianat memiliki panji pengenal di hari kiamat, panjinya ditinggikan
sesuai penghianatannya”.

Dalam Shahih Bukhari disebutkan riwayat dari Ibnu Umar, bahwa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda.

لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌ يُنْصَبُ بِغَدْرَتِهِ

“Setiap penghianat akan mempunyai panji pengenal yang ditancapkan karena
penghianatannya”.

Dalam hadits Buraidah dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda.

اغْزُوا وَلاَ تَغُلُّوا وَلاَ تَغْدِرُوا وَلاَ تَمْثُلُوا

“Berperanglah ! Jangan berbuat gulul (mengambil rampasan perang sebelum dibagi).
Jangan melanggar janji, dan jangan mencacati jasad musuh”.

Betapa besar pelanggaran janji yang dilakukan oleh orang-orang itu dan betapa
parah pengkhianatan mereka.

13. Dalam ajaran Islam terdapat larangan membunuh anak kecil, perempuan, dan
orang yang berusia lanjut.

Di dalam hadits Buraidah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

وَلاَ تَقْتُلُوا وَلِيدًا

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak”. [Riwayat Muslim]

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim riwayat dari Ibnu Umar, bahwa
ada seorang perempuan terbunuh dalam beberapa peperangan Rasulullah, maka beliau
mengingkari perbuatan membunuh perempuan dan anak kecil.

Disebutkan dalam Sunan Abu Dawud hadits dari Anas, bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

انْطَلِقُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَلاَ
تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلاَ طِفْلاً وَلاَ صَغِيرًا وَلاَ امْرَأَةً

“Berangkatlah (ke medan perang) dengan nama Allah, dengan Allah, dan di atas
millah Rasulullah. Janganlah membunuh orang tua jompo, anak-anak, bayi, dan
perempuan”.

Sedangkan dalam perbuatan kriminal ini, tidak membedakan antara yang kecil dan
yang besar, antara laki-laki dan perempuan; bahkan korban yang tewas kebanyakan
ialah orang tua jompo, wanita, dan anak kecil.

14. Dalam ajaran Islam terdapat perintah menjaga kesepakatan dan perjanjian,
larangan membunuh orang-orang yang memiliki perjanjian dengan kaum muslimin dan
orang-orang yang mendapat jaminan keamanan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً

“… dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta
pertanggungjawabannya”. [Al Isra’:34].

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”. [Al Maidah : 1].

Dalam Shahih Bukhari terdapat riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda.

مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرِحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيحَهَا
تُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَامًا

“Barangsiapa membunuh seorang mu‘ahad (non muslim yang mendapat jaminan
keamanan), maka dia tidak akan mencium bau surga, padahal bau surga tercium dari
jarak perjalanan empat puluh tahun”.

Dalam riwayat Nasa’i dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.

مَنْ أَمِنَ رَجُلاً عَلَى دَمِهِ فَقَتَلَهُ فَأَنَا بَرِيءٌ مِنَ الْقَتْلِ،
وَإِنْ كَانَ الْمَقْتُولُ كَافِرًا

“Barangsiapa yang menjamin keamanan seseorang, lalu dia membunuhnya, maka aku
berlepas diri dari pembunuhan itu, sekalipun yang dibunuh adalah seorang
kafir”.

Orang kafir mana saja yang masuk ke negeri kaum muslimin dengan akad keamanan
atau janji dari penguasa, maka tidak boleh melakukan tindak permusuhan
kepadanya, baik kepada jiwa maupun hartanya. Orang-orang Islam itu, dzimmah
(jaminan) mereka sama, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الْمُؤْمِنُونَ تَتَكَافَأُ دِمَاؤُهُمْ وَيَسْعَى بِذِمَّتِهِمْ أَدْنَاهُمْ

“Orang-orang beriman itu, darah (jiwa) mereka setara (kedudukan). Dan orang
kafir yang di bawah jaminan mereka, bisa berusaha”

Sedangkan orang-orang yang melampau batas ini (para pengebom, Red.), sama sekali
tidak memperdulikan dzimmah (jaminan) kaum muslimin, dan tidak memelihara
kesepakatan dan perjanjian. Mereka membunuh orang-orang yang telah mendapat
jaminan keamanan.

15. Dalam ajaran Islam terdapat pengharaman tindakan permusuhan kepada orang
lain dan penghancuran barang-barang milik mereka.

Di dalam Shahih Muslim terdapat riwayat dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bahwa beliau bersabda.

إِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ حَرَامٌ عَلَيْكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا
فِي شَهْرِكُمْ هَذَا فِي بَلَدِكُمْ هَذَا

“Sesungguhnya darah dan harta kalian haram (diganggu) oleh kalian sebagaimana
keharaman hari kalian ini, di bulan ini, di negeri ini”.

Adapun orang-orang stres yang melampau batas ini, berapa banyak gedung-gedung
dan rumah-rumah yang mereka hancurkan? Berapa besar kerugian harta benda dan
hilangnya barang-barang milik pribadi yang ditimbulkan akibat ulah mereka?

16. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang memanah manusia pada waktu
mereka sedang dalam keadaan tidur, tenang dan istirahat; bahkan Islam mengancam
pelakunya.

Dalam Musnad Imam Ahmad terdapat riwayat dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu
dengan sanad yang shahih, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

مَنْ رَمَانَا بِاللَّيْلِ فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa memanah kami pada malam hari, maka dia bukan dari golongan kami”.

Adapun para pelaku kejahatan itu justru memilih waktu malam untuk melakukan aksi
jahatnya yang diingkari lagi keji itu.

Berdasarkan paparan di atas itu, maka setiap orang yang mengenal Islam dengan
asas-asasnya yang mulia, kaidah-kaidahnya yang kokoh, dan saran-sarannya yang
penuh hikmah, dia akan memahami dengan sebenar-benarnya dan mengetahui
seyakin-yakinnya pertentangan antara aksi-aksi kriminal tersebut dengan ajaran
agama ini, bahwasanya aksi-aksi itu diharamkan dalam syari’at Islam. Agama Islam
yang lurus ini, sama sekali tidak mengakuinya (tidak memperbolehkannya, Red.).

Tidak boleh menisbatkan aksi-aksi kriminal itu kepada agama ini. Atau
beranggapan aksi-aksi itu sebagai sifat orang-orang yang beragama; atau karena
aksi-aksi itu lantas mencela amar makruf nahi mungkar yang merupakan tonggak
penegak agama ini atau mencela ajaran-ajaran Islam lainnya. Aksi-aksi seperti
itu adalah sikap nyeleneh (aneh) yang menggambarkan (sifat) para pelakunya.
Dosanya akan dipikul oleh mereka dan yang terlibat memberi bantuan. Orang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Islam berlepas diri dari aksi-aksi
seperti itu.

Saya sampaikan semua ini sebagai nasihat kepada agama Allah, agar tidak
menisbatkan kepadanya hal-hal yang bukan darinya. Dan (juga) nasihat kepada para
hamba Allah yang beriman agar tidak dituduhkan kepadanya perbuatan-perbuatan
yang bukan perbuatan mereka. Dan agar orang yang jahil tidak terpedaya dan orang
yang lalai tidak tertipu. Dan untuk menutup celah bagi orang yang bermaksud
jelek terhadap agama ini melalui sikap-sikap yang tidak diajarkannya dan tidak
bersumber dari pengarahan-pengarahannya yang penuh hikmah. Tidak ada maksud saya
selain mengadakan perbaikan semampu saya.

Dan tidak ada permohonan taufik, kecuali kepada Allah. KepadaNya saya
bertawakkal dan berserah diri. Allah jua satu-satunya tempat meminta agar
membimbing kita kepada kebaikan dengan taufikNya, dan menunjukan kepada kita
jalanNya yang lurus. Kita berlindung kepada Allah dari penyesat-penyesat
kekisruhan, baik yang tampak maupun tersembunyi. Kita memohon kepadaNya agar
menjaga kaum muslimin (dengan) keimanan dan keamanan mereka, dan menjauhkan
mereka dari kejelekan-kejelekan, fitnah melalui nikmat dan anugerahNya.
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan doa.

Oleh: Syaikh Prof.Dr. Abdur Rozzaq bin Abdul Muhsin Al Badr

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03//Tahun XI/1428H/2007M. Penerbit Yayasan
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo
57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan oleh Ustadz Abu Nida’, dari Majalah Al Furqan, Edisi 254
halaman 14-15.
[2]. Yang kami temukan dalam Shahih Muslim adalah hadits
مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ حَتَّى
يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ

Sumber: http://almanhaj.or.id/content/2682/slash/0

2 Tanggapan to “PERISTIWA-PERISTIWA PELEDAKAN BOM DALAM TIMBANGAN ISLAM”

  1. adam said

    Assalamu’alaikum
    salam kenal ijin sekedar mengeluarkan uneg2…

    Peristiwa baru2 ini memang membuat seluruh umat muslim terpukul..
    kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa ini..
    kami yakin ini hanya strategi yang di mainkan dalam
    konspirasi politik oleh musuh2 islam sehubungan makin dekatnya PEMILU 2014
    banyak sudah kejadian di negeri ini yang makin menyudutkan islam
    contoh kecil saja…kejadian baru2 ini anggota DPR yg berbau2 islam…Habis di ganyang oleh media
    di kupas hingga seakar2nya..tapi pada saat terjadi pembakaran masjid2 di daerah sumut..
    Kemana perginya Media dan orang2 yang getol meneriakan HAM..irois sekali..

    wasslm..

    ijn saudaraku blog anda kami masukan ke blogroll kami
    trimakasih sblm nya

    http://adam99hafiz.wordpress.com/

  2. jakajaya said

    terima kasih atas semua atensi yang anda curahkan buat islam. salam sejahtra dari saa-‘jaka jaya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: