Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

Seputar Bid’ah Shalat Tarawih

Posted by d12kt pada 14 Agustus 2010

Al Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin Syamsuddin, Lc. Hafizhahullah

Melanjutkan pembahasan mengenai Ramadhan yang apa-apa yang berada di dalamnya, kami suguhkan bid’ah-bid’ah yang terdapat dalam shalat Tarawih. Hal ini ditujukan agar memurnikan ibadah yang kita lakukan pada bulan suci dari kotoran-kotoran yang tidak diajarkan oleh Rasulullah. Simak pendahuluannya mengenai bid’ah itu sendiri berikut ini.

1. Hakikat Bid’ah

Asal kata bid’ah adalah menciptakan (suatu hal yang baru) tanpa ada contoh sebelumnya. 1 Sebagaimana firman Allah, “Allah pencipta langit dan bumi.” 2 Bahwa Allah menciptakan keduanya tanpa contoh sebelumnya. 3

Adapun bid’ah menurut makna syar’i, ialah sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah, yaitu segala cara beragama yang tidak disyari’atkan oleh Allah dan RasulNya; yakni yang tidak diperintahkan, baik dalam wujud perintah wajib atau berbentuk anjuran, 4 baik berupa keyakinan, ibadah dan muamalah.

Sedangkan menurut Imam Asy Syathibi,

bid’ah

ialah suatu cara dalam beragama yang dibuat untuk menandingi syari’at yang ada (yakni menyerupai cara ibadah yang disyari’atkan, padahal hakikatnya tidaklah sama, bahkan bertentangan dengannya); tujuan pelaksanaannya ialah untuk berlebihan dalam ibadah kepada Allah.

Jadi, yang dimaksud dengan bid’ah, ialah segala bentuk praktek beragama yang tidak memiliki dalil atau landasan hukum dalam agama yang mengindikasikan keabsahannya. Adapun yang memiliki dasar dalam syari’at yang menunjukkan keberadaannya, maka secara syari’at tidaklah dikatakan sebagai bid’ah, meskipun secara bahasa dikatakan bid’ah.

Maka setiap orang yang membuat-buat sesuatu, lalu menisbatkannya kepada ajaran agama, namun tidak memiliki dalil atau landasan hukum dari agama, maka hal itu termasuk bid’ah.

2. Cahaya Sunnah Dan Gelapnya Bid’ah

Setiap muslim wajib mentaati Rasulullah, baik ketika beliau masih hidup atau sesudah meninggal dunia. Mentaati Rasulullah termasuk bagian dari kesempurnaan cinta seseorang kepada Allah, sebagaimana firman Allah,

Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku “. (QS Ali Imran: 31).

Bahkan Allah mengancam orang-orang yang menyelisihi sunnah beliau. Allah akan menimpakan fitnah dan siksaan yang pedih, seperti dalam firman Allah:

Maka hendaklah takut orang-orang yang menyalahi perintah Rasul akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih. (QS An Nur: 63).

Setiap muslim dilarang menyelisihi sunnah Rasul dan jalan orang-orang mukmin (yaitu para sahabat), sebagaimana firman Allah:

Dan barangsiapa yang menen tang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu. (QS An Nisa’: 115).

Nabi menganjurkan kepada semua Umat Islam untuk berpegang teguh dengan sunnah-sunnahnya sepeninggal beliau, dan tidak membuat perkaraperkara bid’ah. Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi bersabda dalam khutbahnya:

Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah, patuh dan teat, walaupun dipimpin budak Habasyi, karena siapa yang masih hidup dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara perkara baru (bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap yang bid’ah adalah sehat. 5

Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata,

“Hendaklah kalian mengikuti, dan janganlah kalian berbuat kebid’ahan. Sungguh kalian telah dicukupkan dalam beragama dengan Islam ini.”

Imam Al Auza’i berkata,

“Bersabarlah kalian di atas sunnah. Tetaplah tegak sebagaimana para sahabat tegak di atasnya. Katakanlah sebagaimana yang mereka telah katakan. Tahanlah dirimu dari apa-apa yang mereka menahan diri darinya, dan ikutilah jalan salafush shalih.”

3. Bid’ah-Bid’ah Dalam Shalat Tarawih

Dalam rubrik ini, saya akan menguraikan bahasan khusus seputar masalah bid’ah dalam shalat tarawih yang banyak menyebar di tengah masyarakat, dan diyakini sebagai perkara sunnah serta dianggap baik oleh sebagian besar orang awam. Akibatnya sunnah-sunnah shalat tarawih yang dianjurkan, banyak kehilangan bentuk dan kemurniannya.

Di antara bid’ah yang lazim terjadi di masyarakat seputar masalah shalat tarawih, ialah sebagai berikut:

3.1 Shalat tarawih dengan cepat, laksana ayam mematuk makanan

Mayoritas imam masjid kurang memiliki akal sehat dan pengetahuan agama yang baik. Hal itu nampak dari cara melakukan shalat. Bahwa hampir semua shalat yang dilakukan, mirip dengan shalatnya orang yang sedang kesurupan, terutama ketika shalat tarawih. Mereka melakukan shalat 23 raka’at hanya dalam waktu 20 menit, dengan membaca surat Al `Ala atau Adh Dhuha.

Menurut semua madzhab, dalam melakukan shalat tidak boleh seperti itu, karena ia merupakan shalat orang munafik, sebagaimana firmanNya:

Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, maka mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ dihadapan manusia dan tidak menyebut Allah, kecuali hanya sedikit sekali. (QS An Nisa’: 142).

Bentuk dan cara shalat tarawih yang seperti itu, jelas bertentangan dengan cara shalat tarawih Rasulullah, para sahabat dan ulama salaf. Nabi bersabda,

Maka berpegang teguhlah kepada sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang memberi petunjuk, berpegang teguhlah kepadanya dan gigitlah dengan gigi geraham kalian. Waspadalah terhadap perkara perkara baru (bid’ah), karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah, dan setiap yang bid’ah adalah sesat. 6

Dan Rasulullah bersabda,

Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat. 7

Ad Darimy meriwayatkan, bahwa Abu Aliyah berkata,

Jika kami mendatangi seseorang untuk menuntut ilmu, maka kami akan melihat ia shalat. Jika ia shalat dengan benar, kami akan duduk untuk belajar dengannya. Dan kami berkata, “Dia akan lebih baik dalam masalah lain.” Sebaliknya, jika shalatnya rusak, maka kami akan berpaling darinya dan kami berkata, “Dia akan lebih rusak dalam masalah yang lain”. 8

Dan suatu hal yang menguatkan lagi, bahwa demikian itu menjadi perkara bid’ah, karena dikerjakan secara rutin dan permanen pada setiap bulan Ramadhan. Mereka beranggapan, bahwa hal itu merupakan cara terbaik dalam menunaikan shalat tarawih.

3.2 Membaca surat Al’An’am dalam satu raka’at dari shalat tarawih

Para ulama menganggap, bahwa membaca surat Al An’am dalam satu raka’at dari shalat tarawih termasuk perbuatan bid’ah, karena demikian itu tidak bersandarkan kepada suatu dalil. Adapun hadits dari Ibnu Abbas dan Ubay bin Ka’ab bahwa Rasulullah bersabda:

Surat Al An’am diturunkan sekaligus dalam sekali tahapan yang dihantarkan oleh tujuh puluh ribu malaikat sambil membaca tasbih dan tahmid

Banyak orang awam yang tertipu dengan hadits ini. Padahal menurut Imam As Suyuthi, bahwa hadits di atas adalah dhaif. Andaikata pun hadits tersebut shahih, juga sedikitpun tidak ada anjuran yang bersifat sunnah dibaca dalam satu raka’at

Membaca surat Al An’am dalam satu raka’at bisa dikatakan bid’ah karena beberapa alasan sebagai berikut.

  1. Mengkhususkan surat Al An’am menipu ummat, bahwa surat yang lain kurang afdhal atau tidak baik untuk dibaca pada waktu shalat tarawih.
  2. Bacaan tersebut hanya dikhususkan pada waktu shalat tarawih.
  3. Memberatkan kaum muslimin terutama orang awam, sehingga mereka akan marah atau jengkel atau timbul kebencian terhadap ibadah.
  4. Yang demikian itu menyelisihi sunnah, sebab Rasulullah menganjurkan agar raka’at kedua lebih pendek daripada raka’at pertama, sementara bid’ah ini telah merubah secara tolal sunnah tersebut dan melawan syari’at. 9

3.3 Bid’ah mengumpulkan ayat-ayat Sajadah

Seorang imam mengumpulkan ayat-ayat sajadah ketika khataman Al Qur’an pada shalat tarawih dalam raka’at terakhir, kemudian ia sujud bersama makmum. 10

3.4 Membaca beberapa ayat yang disebut ayat-ayat hirs (perlindungan)

Mengumpulkan beberapa ayat yang mereka sebut dengan nama ayat-ayat perlindungan, lalu dibaca secara keseluruhan di akhir raka ‘at dalam shalat tarawih. 11

3.5 Bid’ah dzikir dan do’a ketika hendak memulai shalat tarawih

Ucapan seorang bilal atau imam ketika hendak memulai shalat tarawih yang dibaca dengan berjama’ah dansuara keras. 12

Shalaatat tarawih fi syahri ramadhan rahimakumullah Shalaatat tarawih aajarakumullah 13

Bid’ah ini banyak sekali menyebar di negeri ini. Dianggap sebagai sesuatu yang baik dan sunnah, padahal hal tersebut tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah dan sahabat. Padahal setiap cara ibadah dan praktek agama yang tidak ada dalil atau landasan hukumnya, maka tertolak dan dinyatakan sebagai perbuatan bid’ah. Beliau bersabda,

Barangsiapa yang membuat-buat ibadah dalam ajaran kami ini (Islam) yang bukan merupakan bagian darinya, maka amalan itu tertolak. (HR Bukhari).

3.6 Berdzikir dengan dipandu seorang bilal

Berdzikir dengan dipandu seorang bilal setiap selesai shalat dua raka ‘at dari shalat tarawih, maka perbuatan seperti ini termasuk bid’ah. Namun terkadang bacaan dzikir dilakukan sendiri-sendiri dengan ringan, atau terkadang dzikir tersebut dibaca secara berjama’ah. 14

Dzikir dengan cara ini termasuk bid’ah, karena beberapa alasan berikut.

  1. Karena membuat tata cara baru dalam beribadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah merupakan perbuatan bid’ah. Dari Jabir bin Abdullah diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda:

Amma ba ‘du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk ibadah adalah yang dibikin-bikin, dan setiap bid’ah itu adalah sesat. 15

  1. Dzikir tersebut hanya dikhususkan pada waktu shalat tarawih saja, padahal mengkhususkan suatu ibadah yang tidak berdasarkan dalil, maka hal itu termasuk perbuatan bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.
  2. Tindakan itu boleh jadi memberatkan kaum muslimin terutama orang awam, sehingga menimbulkan sikap kebencian terhadap ibadah.
  3. Keempat, perbuatan itu dengan jelas telah menyelisihi sunnah. Sebab Rasulullah tidak pernah menganjurkan membaca dzikir secara berjama’ah dalam shalat tarawih.

Begitu pula beliau tidak pernah mengajarkan bacaan dzikir-dzikir tersebut. Maka bentuk dzikir seperti itu bertentangan dengan sunnah Rasulullah dan kebiasaan para sahabat.

3.7 Mengkhususkan membaca qunut pada shalat tarawih

Mengkhususkan qunut hanya pada pertengahan Ramadhan dalam shalat tarawih. Yang demikian itu tidak pernah dicontohkan Rasulullah . Imam Malik dalam kitab Mudawwanah Al Kubra menyatakan,

“Tidak ada dalil shahih yang bisa digunakan sebagai sandaran bagi orang yang mengkhususkan qunutdalam shalat tarawih pada bulan Ramadhan, baik pada awal maupun akhir Ramadhan, atau pada shalat witir.” 16

3.8 Shalat tarawih bercampur baur antara kaum laki-laki dan kaum wanita dalam satu masjid

Diantara kebid’ahan dan kemungkaran dalam masjid yang berkaitan dengan shalat -terutama shalat tarawih- yaitu melakukan shalat berjamaah campur-baur antara kaum laki-laki dan kaum wanita dalam satu masjid. 17

3.9 Dzikir dengan suara keras dan berjama’ah seperti koor

Dzikir berjama’ah dengan suara keras seperti koor pada setiap waktu istirahat dalam shalat tarawih, merupakan perbuatan bid’ah. 18 Adapun lafadz dzikir yang mereka baca berbeda-beda sesuai dengan perbedaan tempat dan daerah, maka perbuatan seperti ini termasuk mengumpulkan berbagai macam keburukan dan kebid’ahan, antara lain:

  1. Bid’ah dzikir berjama ‘ah dengan suara koor.
  2. Bid’ah dalam menggunakan lafadz-lafadz dzikir yang tidak diajarkan oleh Rasulullah.
  3. Mengganggu kaum muslimin dengan suara keras, dan boleh jadi dzikir tersebut disampaikan lewat mikrofon atau pengeras suara.
  4. Membuat praktek ibadah baru dalam shalat tarawih yang tidak pernah dicontohkan Rasulullah. Padahal beliau bersabda:

Barangsiapa yang melakukan.amalan yang tidak sesuai dengan ajaran kami, maka ibadahnya itu tertolak. (HR Muslim).

3.10 Dzikir berjama’ah dengan suara keras saat akan dimulainya raka’at baru dalam shalat tarawih

Bacaan dzikir yang diamalkan setiap selesai salam dari dua raka’at shalat tarawih, dan (kemudian) hendak memulai raka’at yang baru, (dzikir seperti ini) termasuk perbuatan bid’ah. Tata cara dan bacaan dzikir tersebut antara lain:

Seorang bilal membaca:

Fadhlum minallaahi wan ni’matu yaa tawwaabu ya waasi’al maghfirati Allahummah shalli wa sallim ‘ala muhammadin 19

Lalu dijawab oleh para jama’ah shalat tarawih secara bersama-sama dengan suara keras,

shalluu ‘alaih (atau) Allahumma shalli wasallim ‘ala muhammadin 20

Kemudian pada raka’at-raka’at yang akhir mereka mendo’akan kepada khulafaurrasyidin yang empat.

3.11 Bid’ah do’a berjama’ah ketika istirahat antara shalat tarawih dengan shalat witir

Do’a berjama ‘ah pada saat istirahat antara shalat tarawih dengan shalat witir merupakan perbuatan bid’ah yang munkar. Begitu juga ketika hendak shalat witir, bilal atau imam mengucapkan:

Shalluu sunnatal witri rahimakumullaah (atau) aajarakumullaah 21

Kebanyakan mereka yang mengamalkan bid’ah ini telah membuat bacaan do’a secara khusus, yang tidak bersandar kepada satu dalilpun, dan tidak pernah diajarkan oleh para ulama salaf mapun imam sunnah. 22

3.12 Melazimkan surat Al Ikhlas dan Mu’awidzatain dalam setiap raka’at akhir dari shalat witir

Melazimkan surat Al Ikhlas dan Muawidzatain dalam setiap raka ‘at terakhir dari shalat witir, termasuk perbuatan bid’ah. Hal tersebut tidak pernah dicontohkan Rasulullah dan ulama salaf dari kalangan para sahabat dan tabi’in.

Sementara sebagai orang awam terpesona dengan hadits Nabi yang diriwayatkan Imam Ath Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, dari Abu Hurairah dengan sanad yang lemah, karena terdapat seorang perawi As Sary bin Ismail dan Miqdam bin Daud, yang keduanya merupakan perawi yang dha’if.

Begitu juga hadits serupa diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dalam Sunan-nya dan Imam At Tirmidzi dalam Sunan-nya, serta Ibnu Majah dalam Sunan-nya, dari hadits Aisyah dengan sanad yang lemah. Imam Al Mundziri berkata, bahwa hadits ini diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi serta Ibnu Majah dari Aisyah dari Khushaif bin Abdurahman Al Harrani; telah dinyatakan sebagai perawi yang lemah oleh kebanyakan para imam ahli hadits.

Ibnul Jauzi berkata,

Imam Ahmad dan Yahya Ibnu Ma’in telah mengingkari dengan keras tambahan Muawidzatain dalam raka ‘at akhir dari shalat witir. 23

3.13 Berhenti dari shalat qiyamul lail atau shalat tarawih setelah khataman Al Qur’an

Sebagian umat Islam ada yang menghentikan qiyamul lail atau shalat tarawih setelah menyelesaikan khataman Al Qur’an, padahal perbuatan tersebut termasuk bid’ah. 24

3.14 Membaca dua juz atau lebih dari Al Qur’an pada shalat tarawih terakhir.

Membaca dua juz atau lebih pada malam terakhir dalam shalat tarawih. Ada juga yang melazimkan dari mulai surat Adh Dhuha hingga selesai. 25

Demikianlah penjelasan beberapa bid’ah seputar shalat tarawih, yang secara umum sudah banyak tersebar di tengah masyarakat. Maka demi menjaga keutuhan ajaran Islam dan melestarikan sunnah, serta memelihara pahala ibadah -terutama shalat tarawih- maka saya mengajak kepada seluruh umat Islam agar meninggalkan kebiasaan buruk dan perbuatan bid’ah dalam setiap bidang agama.

Al Qur’an dan Sunnah Rasul dengan tegas memperingatkan tentang bahaya bid’ah. Begitu pula para sahabat dan para tabi’in yang mengikuti Rasulullah dengan melakukan kebajikan juga memperingatkan bahaya bid’ah dengan tegas.

Diantara dalil dari Al Qur’an yang memperingatkan tercelanya bid’ah, antara lain sebagai berikut.

Dalil-Dalil Dari Al-Kitab

Allah berfirman,

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalanjalan (yang lain), karena jalan jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS Al An’Am: 153).

Jalan yang lurus adalah jalan Allah yang wajib diikuti. Jalan itu adalah Sunnah. Sedangkan jalan yang beraneka ragam dan corak itu hanyalah jalan ahli bid’ah yang melenceng dari jalan yang lurus.

Dalil-Dalil Dari As-Sunnah

Nabi bersabda,

Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian di atas ajaran putih bersih. Malamnya laksana siangnya. Dan tidaklah ada seseorang yang menjauhinya, kecuali ia adalah yang binasa. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Barangsiapa memberi contoh yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengerjakan perbuatan baik tersebut, tanpa mengurangi pahala-orang itu sedikitpun. Dan barangsiapa memberi contoh yang buruk dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa dan dosa orang yangmengerjakan perbuatan dosa itu setelahnya, tanpa mengurangi dosa orang-orang itu sedikitpun. (HR Muslim).

Dari Abdullah bin Mas’ud berkata,

Bahwa pernah pada suatu ketika Rasulullah membuat suatu garis, lalu bersabda,”Ini adalah jalan Allah yang lurus,” kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, lalu bersabda,”Ini adalah jalan jalan, dan setiap jalan tersebut terdapat syetan yang mengajak kepada jalan itu,” kemudian beliau membacakan firman Allah:

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yanglain), karena jalan jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa. (QS Al An’am: 153). 26


Catatan Kaki

1 Mu’jamul Maqayis Fil Lughah, Ibnu Faris halaman 119.

2 Al Baqarah: 117.

3 Al I’tisham, oleh Asy Syathibi 1:49. Lihat juga Mufradat Al Fazhil Qur’an, Ar Raghib Al Asfahani, materi kata bada’a, hal 111.

4 Fatawa Ibnu Taimiyah IV 107-108.

5 Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah.

6 Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah.

7 HR Bukhari, Muslim, Ahmad. Lihat Irwaul Ghalil no: 213).

8 As Sunan Wal Mubtadat, Syaikh Muhammad bin Abdusalam, Darul Fikr.

9 Al Amru bin lttiba’ Wan Nahyu Anil lbtida’, Imam As Suyuthi, Maktabatul Qur’an.

10 Al Amru bin lttiba’ Wan Nahyu Anil lbtida’, Imam As Suyuthi, Maktabatul Qur’an.

11 Al Baits Ala Inkaril Bida’ Wal Hawadits, Abu Syamah Al Maqdisy, Darur Rayyah, Riyadh.

12 Mu Jamul Bida’, Raid bin Sabri bin Abi ‘Alfah, Darul Ashimah, halaman 98.

13 Kami tidak dapat menuliskan huruf arabnya sebagaimana yang terdapat dalam sumbernya -majalah Assunnah-. -red. vbaitullah.

14 Al Hawadits Wal Bida’. Imam Abu Bakar At Thurthusy, Dal Ibnul Jauzy, Riyadh.

15 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitab Al Jumu’ah: meringkas shalat dan khutbah 1: 592 dengan nomor 867.

16 Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar At Thurthusy, Dal Ibnul Jauzy. Riyadh.

17 Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq Saudi.

18 Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq Saudi.

19 Kami tidak dapat menuliskan huruf arabnya sebagaimana yang terdapat dalam sumbernya di majalah Assunnah. -red. vbaitullah.

20 Kami tidak dapat menuliskan huruf arabnya sebagaimana yang terdapat dalam sumbernya di majalah Assunnah. -red. vbaitullah.

21 Kami tidak dapat menuliskan huruf arabnya sebagaimana yang terdapat dalam sumbernya di majalah Assunnah. -red. vbaitullah.

22 Al Hawadits Wal Bida’, Imam Abu Bakar Ath Thurthusy, Dar .Ibnul Jauzy, Riyadh, halaman 64.

23 Lihat Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, Darul Kutuhul Ilmiyah. Beirut Libanon. Bab Ma Yuqra’ Fil Witr.

24 Bidaul Qurra’, Syaikh Bakr Abu Zaid, Darul Faruq, Saudi.

25 Al Madkhal, Ibnul Haj 2/294, Darul Hadits, Mesir.

26 HR Ahmad dalam Musnad, Ad Darimi, Al Hakim dalam Mustadrak dan Ibnu Abu Ashim dalam As Sunnah.


Dikutip dari majalah As-Sunnah 07/VII/1424H hal 24 – 25

2 Tanggapan to “Seputar Bid’ah Shalat Tarawih”

  1. Tomy Meilando said

    Wah pengetahuan yang bermanfaat🙂

  2. hasimoto said

    Alhamdulillah, trimakasih atas info nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: