Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

Beberapa Penjelasan Waktu Ta’lim dan Pola Tarbiyyah

Posted by d12kt pada 13 Februari 2010

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sebaiknya kita sama-sama menelaah beberapa tarbiyyah atau juga pelajaran yang disampaikan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, kepada para Shahabat dalam berbagai kondisi yang memungkinkan terjadinya pelajaran tersebut. Hal ini perlu diperhatikan dengan baik oleh kita kaum muslimin, agar kita semua selalu dapat menyampaikan hal-hal yang dianjurkan dalam Islam dalam keadaan apa, sesuai dengan kemampuan kita sendiri.

Sehingga tarbiyyah Islam itu tidak hanya ketika di masjid atau di madrasah Islam semata, tetapi tarbiyyah Islam dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari kita kaum muslimin sendiri. Dengan adanya tarbiyyah dalam kehidupan seperti ini, maka kita kaum muslimin akan dapat menjaga amal-amal Islam dengan mudah dan juga dapat terbiasa dengan amal-amal Islam itu sendiri. Mungkin pola tarbiyyah Islam seperti ini yang belum wujud dalam kehidupan kaum muslimin saat ini. Mari kita perhatikan bersama-sama di bawah ini:

1. Tarbiyyah Islam Ketika Makan

“Umar Bin Salamah RA bercerita: Ia berkunjung kepada Rasulullah SAW, dan kebetulan padanya ada makanan. Rasulullah SAW bersabda: Wahai anakku, mari dekat kemari. Lantas sebutlah nama Allah swt (Bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah apa yang dekat padamu” (HR Tirmidzi)

“Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Jika seseorang di antara kalian makan, tapi lupa menyebut nama Allah swt atas makan itu, maka hendaklah mengucapkan: Bismillahi Awwalahu Wa akhiruhu” (HR Tirmidzi)

Makan merupakan keperluan yang dilakukan oleh setiap manusia, termasuk kita sendiri. Rasulullah SAW mengajarkan adab-adab makan itu ketika Shahabat RA sendiri diajak makan atau juga akan makan. Sehingga adab-adab makan itu akan mudah dicerna dan diamalkan dengan baik. Oleh karena itu kami terkesan ketika kami ikut dalam perjalanan Khuruj Fisabilillah usaha da’wah dan tabligh, sebelum kami makan terbiasa untuk saling mengingatkan adab-adab makan terlebih dahulu.

2. Tarbiyyah Islam Ketika Meninggalnya Seseorang

“Abu Hurairah RA berkata: Ada seorang tukang sapu masjid, pada beberapa hari tidak terlihat Rasulullah SAW, sehingga beliau bertanya tentang orang itu. Dijawab: Ia telah wafat. Nabi bersabda: Mengapa kamu tidak memberitahu padaku? Tunjukkan padaku kuburnya. Maka orang-orang menunjukkan kepada Nabi SAW kuburnya. Kemudian Nabi sholat mayat (jenazah). Kemudian setelah sholat bersabda: Sesungguhnyakubur-kubur ini penuh kegelapan, dan Allah swt telah menerangi padanya dengan sholatku pada mereka” (HR Bukhari, Muslim)

Meninggal seseorang merupakan hal yang biasa, tetapi Rasulullah SAW sebagai pemimpin ummat telah menunjukkan kebaikan akhlaqnya kepada siapapun. Sehingga tarbiyyah islam itu dapat diikuti dengan baik dan mudah oleh para Shahabat RA.

3. Tabiyyah Islam Ketika Mengagungkan Kaum Lain

“Abu Hubairah Bin Amru Al-Muzany RA berkata: Ketika Abu Sofyan datang ke majelis Salman, Shuhaib, Bilal dan beberapa orang lainnya, tiba-tiba mereka berkata: Sebenarnya pedang Allah belum selesai tugasnya mengambil musuh-musuh Allah. Maka berkata Abu Bakar RA: Mengapa kamu berkata demikian kepada seorang tokoh Quraisy? Kemudian Abu Bakar RA menyampaikan kejadian itu pada Nabi Muhammad SAW. Lalu Nabi SAW bersabda: Hai Abu Bakar kalau menjengkelkan hati mereka berarti telah menyebabkan murka Tuhanmu. Maka segera Abu Bakar pergi kembali kepada mereka dan bertanya: Saudara-saudaraku apakah perkataanku tadi telah memurkakan kamu? Jawab mereka: Tidak, semoga Allah tetap mengapunkanmu hai saudaraku” (HR Muslim)

Menghormati orang sesuai tingkatan merupakan hal yang lumrah dan biasa. Dalam hal ini saja Rasulullah SAW dapat memberikan pelajaran-pelajarannya. Dan jelas perkara di atas memberikan pelajaran tersendiri kepada kaum muslimin sampai akhir jaman.

4. Tarbiyyah Islam Ketika Duduk-Duduk

“Dari Abu Ustman RA berkata: Saya bersama Salman berada di bawah pohon. Lalu dia mengambil sebatang ranting kering, kemudian menggoyang-goyangkannya, sehingga dau-daunnya berguguran. Kemudian dia berkata kepadaku: “Wahai Abu Ustman, mengapa engkau tidak bertanya kepadaku kenapa aku berbuat seperti ini?” Sayapun berkata: “Mengapa kamu berbuat demikian?” Dia menjawab: Beginilah yang dilakukan Rasulullah SAW kepada saya ketika saya bersama beliau di bawah pohon. Beliau mengambil ranting kering dan menggoyang-goyangkannya sehingga daun-daunnya berguguran. Kemudian beliau bersabda: “Wahai Salman, mengapa kamu tidak bertanya kepada saya mengapa berbuat seperti ini?” Sayapun bertanya:”Mengapa engkau berbuat demikian?”. Bersabda: Sesungguhnya jika seorang muslim berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, kemudian melaksanakan sholat lima waktu, niscaya dosa-dosanya berguguran sebagaimana daun-daun ini berguguran. Lalu Rasulullah SAW membacakan ayat al-quran: “Dan dirikanlah sholat pada kedua tepi siang dan pada permulaan malam. Sesungguhnya amal kebaikan itu akan menghapus dosa-dosa. Itulah peringatan bagi orang-orang yang mau ingat” (HR Ahmad, Nasa’I, Thabrani)

Para Shahabat RA selalu berusaha meniru-niru apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW. Sehingga di dalamnya mengandung pelajaran yang sangat penting bagi kita. Di dalam keadaan duduk-duduk di bawah pohon saja telah memberikan pelajaran yang sangat berarti di antara mereka.

5. Tarbiyyah Islam Ketika Dalam Majelis

“Dari Muawiyyah RA: Sesungguhnya Rasulullah SAW ketika keluar menemui satu majelis para Shahabat, lalu Rasulullah SAW bersabda kepada mereka: Mengapa kalian duduk di sini? Mereka menjawab: Kami menyebut Allah dan memujiNya atas nikmat agama Islam yang telah dilimpahkan kepada kami. Rasulullah SAW bersabda: Demi Allah, karena itulah kaliah duduk di sini? Merekamenjawab: Demi Allah, hanya karena itulah kami duduk. Rasulullah SAW bersabda: Aku tidak akan meminta kamu bersumpah atau aku berburuk sangka terhadap kamu, namu Malaikat Jibril telah mendatangiku dan memberi kabar bahwa Allah swt sangat membanggakan kalian di depan para malaikat” (HR Abi Syaibah, Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Nasai)

Rasulullah SAW selalu berkeinginan para Shahabat dalam keadaan baik dan tidak melanggar agama Islam. Dan Rasulullah SAW dapat memberikan pelajaran ketika para Shahabat RA sendiri dalam sebuah majelis di antara mereka.

6. Tarbiyyah Islam Ketika Dalam Perjalanan

“Dari Urwah RA berkata: Abdullah Bin Umar RA naik haji bersama dengan kami, dan kami mendengar beliau berkata: Saya mendengar bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: Sesungguhnya Allah swt tidak akan mengambil (menghilangkan) ilmu sekaligus sesudah diberikan-Nya, melainkan mengambil itu dengan mengambil (mewafatkan) ahli ilmu (ulama) bersama dengan ilmunya. Maka tinggallah orang yang bodoh. Mereka diminta fatwanya, lalu mereka berfatwa menurut kemauan sendiri. Sebab itu, mereka menyesatkan dan sesat.” (HR Bukhari)

“Dari Mu’adz Bin Jabar RA menceritakan: Aku membonceng di belakang Nabi Muhammad SAW, yang pada waktu itu beliau mengendarai keledai yang diberi nama ‘Ufair. Nabi Muhammad SAW bertanya: Hai Mu’adz, apakah mengetahui kewajiban Allah atas hamba-hambaNya dan kewajiban mereka atas Allah?. Aku menjawab: Allah dan RasulNya lebih mengetahui. Nabi Muhammad SAW menjawab: Sesungguhnya kewajiban Allah atas hamba-hambaNya ialah hendaknya mereka menyembahNya dan tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Dan kewajiban hamba atas Allah swt ialah hendaknya Dia tidak mengazab orang yang tidak menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, bolehkah aku menceritakan berita gembira ini kepada manusia? Rasulu menjawab: Janganlah engkau menceritakan kepada mereka, karena niscaya mereka akan mengandalkannya” (HR Bukhari, Muslim, Tirmidzi)

Para Shahabat RA selalu mengulangi ucapan Nabinya ketika dalam sebuah perjalanan. Sehingga pengajaran itu akan terjadi dalam lingkungan selalu terbangun, tidak hanya terfokus pada lingkungan masjid atau madrasah. Dengan pola seperti ini sebenarnya pengajaran dapat memasuki seluruh kehidupan kaum muslimin, sehingga proses saling mengingatkan akan terbangun dengan sendirinya.

7. Tarbiyyah Islam Ketika Dalam Kedatangan Tamu

“Dari Ibnu Abbas RA bahwa seorang perempuan datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya: Ibu saya bernazar akan mengerjakan haji, tetapi dia telah meninggal dunia sebelum sempat mengerjakannya. Bolehkah saya mengerjakan haji untuk mengantikannya? Jawab Nabi: Ya, boleh. Kerjakanlah haji itu untuk mengantikannya. Bagaimana pendapat engkau, kalau ibu engkau berhutang, engkaukah yang akan membayarnya?. Jawab perempuan itu: Ya. Kata Nabi: Bayarlah, karena hutang (kewajiban) kepada Allah swt lebih patut dibayar” (HR Bukhari)

Di atas ini merupakan dialog yang dilakukan Nabi kita, Nabi Muhammad SAW, dengan seorang perempuan yang datang. Dan Ibnu Abbas RA yang mengetahui hal tersebut mendapatkan pengajaran dari Nabi sendiri, dan akhirnya menjelaskan juga kepada kita.

8. Tarbiyyah Islam Ketika Setelah Sholat

Dalam sebuah hadits yang cukup panjang yang diriwayatkan Imam Bukhari , di bawah ini sebagian kutipannya:

“Nabi Muhammad SAW apabila selesai sholat shubuhnya beliau menghadapkan mukanya ke arah kami, lalu bersaba: “Siapakah di antara kalian yang melihat sesuatu dalam mimpinya tadi malam?” Jika ada seseorang yang mengalaminya, maka ia menceritakan mimpinya, dan Nabi Muhammad SAW menabirkannya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah swt.” (HR Bukhari)

Dalam hal di atas memperlihatkan kebiasaan Rasulullah SAW memberikan pengajarannya, dan masih banyak kisah-kisah lainnya di mana Rasulullah SAW memberikan pengajaran ketika dalam masjid, atau juga bahkan sebelum sholat. Seperti Rasulullah SAW memberikan arahan untuk meluruskan sholat.

Jika kita pelajari berbagai kisah dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para Shahabat, kita akan mendapatkan bahwa pelajaran atau tarbiyyah Islam itu lebih terjadi dalam kehidupan itu sendiri. Sehingga tarbiyyah Islam akan langsung sampai pada sasarannya dengan baik. Pola tarbiyyah Islam secara langsung masih lemah dan berkurangan di kalangan kaum muslimin, sehingga perlu digalakan dengan baik dalam suasana kebersamaan di antara kaum muslimin sendiri.

Para Shahabat RA sendiri tidak semua menulis ucapan-ucapan Nabi Muhammad SAW, sehingga kita sendiri dapat memperhatikan jumlah dari periwayatan hadits itu sendiri dari para Shahabat tidak sama. Pertumbuhan Ummat Islam yang besar dari waktu-ke waktu memberikan dorongan tersendiri kepada sebagian kaum muslimin untuk mengumpulkan pelajaran-pelajaran itu ke dalam tulisan-tulisan yang lebih sistematik dalam kitab-kitab. Sehingga kita sekarang masih dapat membaca tulisan yang disusun oleh para Ulama yang sudah ratusan tahun lamanya, seperti kitab Imam Syafi’I, Imam Ahmad, Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Bukhari, Imam Muslim dsb.

Proses penyusunan pelajaran generasi-generasi awal sangat berbeda dengan generasi-generasi selanjutnya, apalagi dengan generasi di jaman kita. Penyusunan tulisan yang dilakukan para Ulama generasi pertama perlu melakukan perjalanan untuk melakukan penelusuran sumber pengetahuan itu secara langsung dengan baik. Para Ulama ini mengajarkan kembali ke kaum muslimin di masjid-masjid, misalkan Imam Malik mengajarkannya di masjidil haram dan salah satu muridnya adalah Imam Syafi’i sendiri. Di jaman itu jelas proses penelusuran ini terus terjadi.

Imam Syafi’I tidak hanya bergantung pada pandangan Imam Malik, tetapi beliau sendiri melakukan penulusuran sendiri terhadap sumber-sumber Islam. Tetapi hal ini tidak dapat dilakukan oleh semua kaum muslimin, hanya sebagian kecil. Jadi sangat tepat apa yang diberitahukan oleh Rasulullah SAW bahwa generasi yang terbaik itu adalah Para Shahabat RA, selanjutnya Tabi’in, dan selanjutnya Tabi-Tabi’in. Jadi terdapat tiga generasi yang menjadi sumber utama itu. Para Imam besar dan juga para Imam Hadits yang sangat dekat ke jaman itu jelas akan menelusuri ke dekatan pada tiga generasi tersebut.

Sedangkan generasi-generasi selanjutnya belajar pada para Ulama di jamannya dan juga sumber-sumber yang ditulisnya, atau para Ulama yang berhubungan dengan Ulama pertamanya. Sehingga proses pengajaran tersebut akan lebih dilakukan melalui proses pengajaran yang memerlukan pengelolaan secara tersendiri, misalkan kurikulumnya, dan juga tempatnya.

Perbedaan proses pengajaran yang terjadi di kalangan kaum muslimin menjadi tantangan sendiri bagi setiap generasi, karena tuntutan dari ajaran-ajaran Islam itu sendiri adalah wujudnya amal-amal agama di lingkungan kehidupan kaum muslimin sendiri secara nyata, tidak hanya tertulis dalam kitab-kitab atau juga tulisan-tulisan singkat lainnya, brosur atau buletin. Di jaman Rasulullah SAW akan lebih mudah ajaran-ajaran itu wujud karena terbiyyah-tarbiyyah itu wujud dalam kehidupan itu sendiri, tidak hanya di masjid yang dibina Rasulullah SAW dan para Shahabat RA. Kita dapat pelajari dari beberapa kisah yang terjadi di atas, dan kami sampaikan di atas beberapa proses pengajaran itu sendiri. Disamping juga terdapat pengajaran yang dilakukan di masjid oleh Rasulullah SAW dan juga Para Shahabat RA.

Mudah-mudahan bermanfaat tulisan diatas, terimakasih atas perhatiannya.

Haitan Rachman

http://usahadawah.com/2008/09/27/beberapa-penjelasan-waktu-ta%E2%80%99lim-dan-pola-tarbiyyah/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: