Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

Bahaya dibalik gula diet

Posted by d12kt pada 7 Agustus 2009

VIVAnews – Coba perhatikan komposisi bahan pada bungkus-bungkus makanan jadi di sekitar kita, terutama yang berembel-embel kata ‘bebas gula’ atau ‘diet’. Apa yang Anda lihat di sana? Aspartame. Aspartame adalah bahan pemanis rendah kalori pengganti gula biasa (sukrosa).

Aspartame memang dikenal sebagai gula diet. Tak mengherankan, bagi wanita yang sedang menjalani program mengurangi berat badan membawa gula diet kemasan sachet ini ke mana-mana.

Buat sebagian orang, mengonsumsi gula diet merupakan salah satu cara menjaga agar badan tetap sehat dan langsing. Bahkan, penggunaan gula jenis ini’disarankan bagi mereka yang mengidap penyakit diabetes.

Namun, siapa sangka, aspartam, salah satu zat pemanis buatan yang umum terdapat pada gula diet, bisa menimbulkan efek negatif bila dikonsumsi berlebih dalam jangka panjang. Beberapa efek negatif itu, misalnya, memicu gangguan jaringan otak manusia, menimbulkan sakit kepala, kejang-kejang, mati persendian, mual-mual, kejang otot, hingga akibat paling tragis: kematian.

Aspartam berpeluang menimbulkan kerusakan ginjal. Pasalnya, aspartam adalah kombinasi dari dua asam amino, asam aspartat dan fenilalanin. Seperti protein pada umumnya, asam-asam amino tersebut harus mengalami metabolisme di dalam tubuh.

Penguraian protein itu merupakan tugas ginjal. Apabila terlalu banyak dan terlalu sering mengonsumsi aspartam, ginjal akan kecapaian dan bisa mengalami kerusakan, sehingga timbul penyakit ginjal. Padahal, ginjal berfungsi menyaring semua zat-zat yang berbahaya bagi tubuh. Jika ginjal rusak, kinerja tubuh akan berkurang, sehingga tubuh akan semakin mudah terserang penyakit.

Meski begitu, para ahli kesehatan juga sepakat bahwa aspartam tidak berbahaya apabila dikonsumsi dalam takaran yang pas. Dosis yang aman adalah 40 miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan. Contohnya, seseorang berbobot tubuh 50 kg hanya boleh menenggak aspartam maksimum 2.000 mg (2 gram) sekali asup.

Namun, takaran tersebut, bisa dibilang cukup minim dan sulit dipatuhi. Maklum, bagi kebanyakan lidah takaran itu kurang membawa rasa manis. Padahal, bila menjadi kebiasaan dan dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang, dampak negatif tadi bisa muncul.
• VIVAnews

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: