Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

Efek dari Facebook

Posted by d12kt pada 3 Juli 2009

Sebuah study dalam neurobiology atas perasaan kekaguman dan manusiawi
ternyata dapat ditimbulkan dari konsumsi media. Mungkin terlalu cepat
mengatakan bahwa Twitter dan Facebook telah menghancurkan moralitas
konsumen, namun tidak terlalu cepat untuk mengetahui apa saja kegiatan
konsumen dalam situs jejaring social tersebut. Dalam paper yang
dipublikasikan, Senin (13/04) lalu di National Academy of Sciences, 13
orang menunjukkan bahwa dampak multimedia dapat memunculkan rasa
empathy, seperti rasa takut dan marah.

Dalam paper tersebut juga disebutkan bahwa system empati di otak hanya
berlangsung selama enam hingga delapan detik. Paper yang berjudul “Can
Twitter Make You Amoral? Rapid-fire Media May Confuse Your Moral
Compass” tersebut juga memberikan spekulasi bahwa rasa simpati tidak
dihubungkan kepada kebiasaan konsumsi media, namun justru situs jejaring
social seperti Facebook dan Twitter yang dapat membuat pola social
generasi baru tersebut.

Paper tersebut juga menyebutkan bahwa sebagian besar orang yang membaca
kata atau sesuatu yang menarik mengenai teman, baik di Twitter atau
Facebook, ataupun hanya melihat link dari kisah tragis, mereka akan
cenderung lambat merespon. Dengan membuka link ke kisah atau videonya
membuat terjadi hubungan neurobiology perasaan kasihan lebih nyata.

Sebuah review dari format berita tabloid di
Journal of Broadcasting and Electronic Media menemukan bahwa efek
psikologis kekaguman atau kasihan diperoleh dari apa yang mereka lihat
atau secara visual, kecuali jika subject bersifat membosankan. Tabloid
storytelling juga tampil untuk memproduksi sisi kognitif hingga
overload. Dari kesimpulan dalam paper tersebut, akhirnya menemukan bahwa
efek neurological yang berupa perasaan kagum atau kasihan, berasal dari
media yang berbeda, bisa dari tabloid dan TV yang mampu membuat sebagian
orang selalu menonton walaupun content tidak menarik. Sementara untuk
situs jejaring social, tidak secara otomatis membuat pengguna menjadi
immoral, hanya saja efek secara langsungnya tidak sekencang dari yang
diperoleh melalui TV atau media cetak.(h_n)

Hati-Hati, Kebanyakan Main Facebook Bisa Jadi Bodoh

Jika mengakses Facebook berguna untuk mereka yang sudah bekerja, lalu
benarkah surfing Facebook lebih sering dapat mengakibatkan kebodohan
bagi mahasiswa?

Waktu yang dihabiskan seorang mahasiwa untuk “Poke Friends”, posting
foto, dan update status mereka di Facebook, dapat berpengaruh besar
terhadap kualitas akademis mereka. Peneliti dari Ohio Dominican
University, Adam Duberstein, dan Aryn Karpinski, seorang mahasiswa
kedokteran dari universitas yang sama menyatakan bahwa mahasiswa yang
menghabiskan waktu untuk mengakses situs jejaring social populer
tersebut akan memiliki kekurangan waktu belajar dan memiliki nilai atau
idneks prestasi lebih rendah daripada rata-rata mahasiswa yang tidak
atau jarang mengakses Facebook.

Karpinski dan Adam Duberstein juga menyatakan bahwa mereka sudah
meneliti perbedaan demografi antara mahasiswa pengguna Facebook dan
non-pengguna untuk menginvestigasi typical profil mahasiwa tersebut.
Kedua peneliti telah mensurvei 219 siswa di Ohio, diantaranya 102 masih
berstatus mahasiwa, dan 117 responden yang telah lulus kuliah, di
pertengahan tahun 2008. Total sebanyak 148 orang mereka mengaku memiliki
account Facebook.

Untuk hasilnya, Karpinski menyatakan bahwa mereka yang menggunakan
Facebook memiliki indeks prestasi atau GPA antara 3.0 hingga 3.5 skala
4, sedangkan untuk non-pengguna Facebook memiliki nilai IP antara 3.5
hingga 4.0. Peneliti menemukan bahwa mereka yang menggunakan Facebook
hanya menghabiskan waktu satu hingga lima jam satu minggu untuk belajar,
sedangkan mereka yang non-Facebook menggunakan 11 hingga 15 jam waktunya
dalam satu minggu untuk belajar. Ketika ditanya soal akibat ke
performance akademik, Karpinski mengungkapkan bahwa 79 persen diantara
pengguna Facebook mengatakan tidak ada dampaknya karena mereka mengaku
tidak sepenuhnya menggunakan frekuensi tersebut, walaupun 65 persennya
mengatakan bahwa mereka menggunakan account Facebook mereka setiap hari.

Study tersebut juga menemukan bahwa ada kaitannya antara Facebook dan
aktivitas mahasiwa di luar jam kampus. Mahasiswa yang bekerja selama 15
jam atau kurang dalam satu minggu akan memiliki banyak aktivitas
ekstrakurikuler dibandingkan mereka yang sering menggunakan
Facebook.(h_n)

www.beritanet.com

“Facebook merajalela”

Itulah kesan singkat di benak saya hasil dari berbincang-bincang dengan
seorang teman yang sangat tidak senang saudaranya terjerumus dalam
kejelekan. Sehingga hal itu mendorong saya untuk menyusun tulisan singkat
ini.

Berjam-jam membaca al-Qur’an sesuatu yang amat jarang kita lakukan.
Berjam-jam mengikuti kajian kitab pun jarang kita lakukan. Berjam-jam
membolak-balik kitab para ulama pun sulit untuk kita saksikan pada
kebanyakan sosok pemuda muslim di jaman ini. Namun, berjam-jam di depan
internet tanpa ada aktifitas yang jelas dan bermutu adalah sesuatu yang
lumrah. Terlebih lagi dengan adanya facebook yang kini marak di dunia
maya.
Sungguh benar Allah ta’ala yang berfirman (yang artinya),

“Demi masa, sesungguhnya semua orang benar-benar berada dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman, beramal salih, saling menasihati dalam
kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. al-’Ashr : 1-3).

Perkembangan teknologi bukanlah sesuatu yang bisa disalahkan. Hanya saja,
kebanyakan orang tidak bisa menggunakan produk kecanggihan teknologi itu
dengan sebagaimana seharusnya. Cobalah kita ingat beberapa belas tahun yang
silam, ketika televisi masih menjadi barang langka, ketika internet dan hp
belum meluas sebagaimana sekarang. Niscaya akan kita dapati banyak
kemungkaran yang dahulu jarang kita temukan terjadi secara terang-terangan
ternyata pada jaman sekarang ini sudah menjadi barang yang biasa dan lumrah
menghiasi PC, laptop, dan perangkat komunikasi para generasi muda. Allahul
musta’an! Sungguh benar sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah bak potongan-potongan
malam yang gelap gulita. Pada pagi hari seorang masih beriman namun di sore
harinya dia telah menjadi kafir.” Atau “Pada sore hari masih beriman namun
di pagi harinya dia menjadi kafir.” “Dia rela menjual agamanya demi
mendapatkan sekeping kesenangan dunia.” (HR. Muslim).

Saudaraku -semoga Allah menjaga diriku dan dirimu- waktu yang Allah berikan
kepada kita merupakan nikmat yang sangat agung. Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah nikmat yang kebanyakan manusia
terpedaya karena tidak bisa menggunakan keduanya dengan baik, yaitu
kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari). Hasan al-Bashri rahimahullah
mengatakan, “Hai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah kumpulan perjalanan
hari. Setiap kali hari berlalu maka lenyaplah sebagian dari dirimu.”
Ada
orang yang mengatakan, “Waktu bagaikan pedang, kalau kamu tidak menebasnya
-dengan kebaikan- maka dia akan menebasmu -dengan keburukan-.” Hidup di
dunia adalah sementara ya akhi…, untuk apa kita buang waktu kita dalam
perkara-perkara yang sia-sia? Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Apakah kalian mengira, bahwa Kami menciptakan kalian sia-sia belaka, dan
kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”. (QS. al-Mukminun : 115).
Allah juga berfirman (yang artinya), “Kemudian sesudah itu kalian juga akan
mati, lantas kalian kelak akan dibangkitkan pada hari kiamat.” (QS.
al-Mukminun : 15-16).

Setiap mukmin, ketika ditanya; untuk apa anda hidup? Niscaya selama akalnya
masih waras akan menjawab; untuk beribadah kepada Allah. Benar-benar
jawaban yang cerdas. Namun, ketika kita perhatikan dengan seksama aktifitas
dan perilaku manusia di alam nyata dalam bentuk gerak-gerik mata,
jari-jemari,
tangan dan kakinya, di kala siang, sore atau malam hari, maka
akan kita temukan realita yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat
dari jawaban yang mereka lontarkan. Mereka makan untuk memenuhi hawa nafsu.
Mereka memandang untuk memenuhi hawa nafsu. Mereka berjalan untuk mencapai
apa yang diinginkan oleh nafsu. Mereka begadang juga untuk memenuhi
tuntutan hawa nafsu. Mereka buka mata dan telinga lebar-lebar pun untuk
memenuhi keinginan hawa nafsu. Kita tidak sedang menyibukkan diri dengan
membicarakan aib orang lain, namun yang kita bicarakan adalah aib-aib kita
yang Allah sendirilah yang paling tahu betapa banyak aib kita di mata-Nya.
Meskipun demikian, kita seperti orang yang masa bodoh dengan dosa-dosanya.
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Seorang mukmin akan
melihat dosanya bagaikan sebuah bukit besar yang akan menimpa dirinya.
Sedangkan seorang yang fajir (berdosa) akan melihat
dosanya hanya seperti
seekor lalat yang hinggap di depan hidungnya kemudian dia halau dengan jari
dengan santainya.”

Subhanallah! Betapa jauhnya kita dengan akhlak salafus shalih. Ibnu Abi
Mulaikah mengatakan, “Aku berjumpa dengan tiga puluh sahabat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka semua merasa khawatir dirinya
tertimpa kemunafikan.” Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Seorang
mukmin akan memadukan di dalam dirinya antara ihsan/perbuatan baik dengan
rasa takut. Sedangkan seorang yang munafik akan memadukan di dalam dirinya
antara perbuatan jelek dengan rasa aman dari tertimpa hukuman.” Allahul
musta’aan! Di manakah posisi kita wahai saudaraku!

Perhatikanlah wahai saudaraku -semoga Allah membimbingmu- sesungguhnya
syaitan dan bala tentaranya tidak henti-henti berupaya untuk menjerumuskan
umat manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda,
“Sesungguhnya singgasana Iblis berada di atas lautan. Maka dia mengutus
pasukan-pasukannya demi menyesatkan manusia. Bala tentaranya yang paling
mulia kedudukannya di sisi Iblis adalah yang paling dahsyat menimbulkan
kekacauan.” (HR. Muslim). Suatu ketika, Aisyah radhiyallahu’anha mendapati
suaminya yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkannya di
suatu malam, maka Aisyah pun merasa cemburu. Setelah pulang, Nabi melihat
kegelisahan yang ada padanya, lalu Nabi berkata, “Ada apa denganmu wahai
Aisyah? Apakah kamu merasa cemburu?”. Aisyah mengatakan, “Bagaimana orang
sepertiku tidak merasa cemburu kepada seorang suami yang seperti anda?”.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah syaitanmu
telah mendatangimu?”. Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, apakah bersamaku
ada syaitan?”. Beliau menjawab, “Iya.” Lalu Aisyah berkata, “Apakah
semua
orang juga demikian?”. Beliau menjawab, “Iya.” Aisyah kembali bertanya,
“Demikian juga anda wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Iya, hanya saja
Allah telah membantuku untuk menundukkannya sehingga akhirnya dia pun masuk
Islam.” (HR. Muslim).

Ketika dahulu para sahabat duduk bersama untuk berbicara dan menasehati
dalam rangka menambah keimanan dan ketakwaan. Eee … pada hari ini sebagian
dari kita justru berkumpul dan saling bahu membahu untuk memupuk
kemaksiatan dan merontokkan tembok keimanan. Tidakkah kita ingat firman
Allah ta’ala (yang artinya), “Pada hari kiamat itu nanti orang-orang yang
saling berkasih sayang dan berteman akan berubah menjadi saling bermusuhan
kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. az-Zukhruf : 67). Maka, dengan
andil besar dari syaitan dan bala tentaranya itulah, terbentuklah
geng-geng, perkumpulan-perkumpulan, gerakan-gerakan, yang semuanya
memiliki
satu kecenderungan yang seragam yaitu bertekad bulat untuk mendurhakai
ar-Rahman Sang penguasa kerajaan langit dan bumi. Dengan keyakinan mereka,
mereka menanamkan bahwa kehidupan dunia adalah lahan untuk memuaskan hawa
nafsu dan mengumbar kesombongan. Dengan ucapan mereka, mereka ingin
mengelabui kaum muda bahwa tidak ada gunanya rajin-rajin menuntut ilmu
agama, lebih baik sibuk dengan wawasan terkini dan meninggalkan al-Qur’an.
Dengan sikap dan perbuatan mereka, mereka mengajak masyarakat dan para
orang tua untuk bersama-sama menenggelamkan putra-putri mereka dalam
pergaulan bebas tanpa batas, sehingga perbuatan keji pun dengan leluasa
merajalela. Apakah maknanya ini semua, wahai saudaraku yang mulia… akankah
kita biarkan kemungkaran itu terus merajalela dan merusak tunas-tunas
bangsa?

Oleh sebab itu, seorang pemuda muslim yang masih menyimpan kecintaan kepada
Allah dan rasul-Nya hendaknya
menanamkan tekad di dalam hatinya agar tidak
ikut memperkeruh raut muka umat Islam masa kini di hadapan Rabb mereka.
Jadilah sebagaimana pemuda Ibrahim yang getol untuk memperjuangan tauhid
dan memberantas syirik yang ada di masyarakatnya! Jadilah sebagaimana para
pemuda Kahfi yang beriman kepada Allah dan Allah pun berkenan menambahkan
hidayah kepada mereka! Jadilah sebagaimana Ali bin Abi Thalib yang sangat
keras memusuhi musuh-musuh Islam yang berani melecehkan sahabat Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam! Jadilah sebagaimana para pemuda Anshar yang
berlomba-lomba untuk maju ke medan jihad demi mempertahankan agamanya!
Jadilah sebagaimana Uwais al-Qarani yang sangat berbakti kepada ibunya!

Saudaraku, salafuna as-shalih adalah orang-orang yang sangat pelit dengan
waktunya dan paling gigih dalam menjaga lisan mereka. Allah ta’ala
berfirman (yang artinya), “Apakah mereka itu mengira bahwa Kami
tidak
mendengar rahasia dan bisik-bisikan mereka? Sebenarnya Kami mendengar, dan
para utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.” (QS.
az-Zukhruf : 80). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidak ada
kebaikan di dalam kebanyakan perbincangan mereka kecuali orang yang
menyuruh bersedekah, mengajak yang ma’ruf, atau mendamaikan di antara
manusia.” (QS. an-Nisa’ : 114). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Salah satu tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan
hal-hal yang tidak penting baginya.” (HR. Tirmidzi, hasan). Sebagian orang
bijak mengatakan, “Apabila kamu akan berbicara maka ingatlah bahwa Allah
mendengar ucapanmu. Apabila kamu diam, maka ingatlah bahwa Allah juga
selalu mengawasimu.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 152).

Ikhwah sekalian, tauhid bukan sekedar tulisan yang tergores di buku-buku.
Tauhid bukan sekedar dihafal
di dalam pikiran. Tauhid juga bukan sekedar
slogan-slogan kosong tanpa makna. Tauhid yang bersemayam di dalam hati
seorang insan tentu akan membuahkan amal nyata di dalam kehidupan. Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “..pokok keimanan itu tertanam
di dalam hati yaitu ucapan dan perbuatan hati. Ia mencakup pengakuan yang
disertai pembenaran dan rasa cinta dan ketundukan. Sedangkan apa yang ada
di dalam hati pastilah akan tampak konsekuensinya dalam perbuatan
anggota-anggota badan. Apabila seseorang tidak melakukan konsekuensinya
maka itu menunjukkan bahwa iman itu tidak ada atau lemah [padanya]. Oleh
karena itu maka amal-amal lahir itu merupakan konsekuensi dari keimanan di
dalam hati.. Ia merupakan pembuktian atas apa yang ada di dalam hati, tanda
dan saksi baginya. Ia merupakan cabang dari totalitas keimanan dan bagian
dari kesatuannya.…” (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah [2/175] as-Syamilah,
lihat
juga Mujmal Masa’il al-Iman al-’Ilmiyah, hal. 15)..

Ibnu Batthah rahimahullah (wafat tahun 387 H) menyebutkan riwayat dari
Umair bin Habib radhiyallahu’anhu, dia mengatakan, “Iman itu bertambah dan
berkurang.” Ada yang bertanya, “Apakah maksud pertambahan dan
pengurangannya?”. Beliau menjawab, “Apabila kita mengingat Allah kemudian
kita memuji dan menyucikan-Nya maka itulah pertambahannya. Dan apabila kita
lalai dan melupakan-Nya maka itulah pengurangannya.” (al-Ibanah al-Kubra
[3/153], lihat juga Fath al-Bari Ibnu Rojab [1/5] as-Syamilah).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Belumkah tiba saatnya bagi
orang-orang yang beriman untuk tunduk dan takut hati mereka dengan
mengingat Allah serta merenungkan kebenaran yang diturunkan (kepada
mereka), dan janganlah mereka itu seperti orang-orang terdahulu yang
diberikan kitab sebelum mereka, ketika masa yang panjang berlalu
maka
mengeraslah hati mereka, dan banyak di antara mereka yang menjadi
orang-orang fasik.” (QS. al-Hadid : 16). Suatu ketika Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan
celaka sedangkan bersama kami masih ada orang-orang salih?”. Maka beliau
menjawab, “Iya, apabila perbuatan-perbuatan keji telah merajalela.” (HR.
Muslim).

Demikianlah sekelumit pesan bagi saudara-saudaraku sekalian, para pemuda
yang menginginkan kebahagiaan abadi di akhirat nanti, bersama para bidadari
dan pelayan-pelayan yang baik budi. Suatu hari di saat orang-orang lain
tersiksa, ketika itu pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada
Rabbnya pun akan merasakan keteduhan di bawah naungan Arsy-Nya. Karena dia
rela untuk meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsunya demi
mendapatkan kecintaan Rabb alam semesta. Allah ta’ala berfirman tentang
surga (yang
artinya),

“Itulah balasan bagi orang-orang yang takut kepada Rabbnya.” (QS.
al-Bayyinah : 8).

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita dan memurnikan taubat kita agar
benar-benar ikhlas karena-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha
Penerima taubat.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Dari milis sebelah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: