Didik Turmudzi Blog

Mari kita jalin tali silaturahmi

Orang yang Terakhir Keluar dari Neraka

Posted by d12kt pada 25 Juni 2009

Abu Hurairah telah menceritakan kepada Atha’ nin Yazid Al-Laitsi bahwa
para sahabat telah bertanya kepada Rasululla saw., “Apakah engkau akan
melihat Tuhan kami kelak pada hari kiamat?” Maka Rasulullah saw. balik
bertanya, “Apakah kamu sekalian merasa kesulitan melihat bulan pada
malam purnama?” Mereka menjawab, “Tidak.” Selanjutnya Rasulullah saw,
bertanya lagi, “Apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari yang
tidak ada awan yang menghalangi? ” Mereka menjawab, “Tidak.”

Mendengar jawaban itu, Rasulullah bersabda, “Seperti itulah kamu
sekalian akan melihat-Nya. ” Kemudian Rasulullah saw. meneruskan
perkataaannya, “Pada hari kiamat nanti Allah akan mengumpulkan seluruh
umat manusia, lalu Allah berfirman kepada mereka, `Hendaknya setiap
orang mengikuti sesuatu yang disembahnya selama di dunia.’ Oleh karena
itu, orang yang menyembah matahari mengikuti matahari, orang yang
menyembah bulan mengikuti bulan, dan orang yang menyembah berhala
mengikuti berhala. Sedangkan orang-orang munafik dari kalangan umat
Muhammad tetap berdiri di tempat dan tidak bergerak sama sekali
(karena yang disembah oleh mereka tidak jelas).

Kemudian Allah mendatangi kaum muslimin dalam wujud yang tidak
dikenali oleh mereka, seraya Allah berfirman kepada mereka, `Aku ini
adalah Tuhanmu.’ Mendengar itu, mereka berkata, `Kami berlindung
kepada Allah dari bujuk rayumu, dan kami akan tetap berdiri di tempat
ini sampai datang kepada kami Tuhan kami yang sebenarnya.’ Kemudian
Allah datang kepada mereka dalam wujud yang mereka kenal, dan Allah
berfirman kepada mereka, `Aku ini Tuhanmu yang sebenarnya.’ Pada saat
mereka mendengarnya dan mereka merasa yakin bahwa itu Tuhannya, maka
mereka berkata, `Engkaulah Tuhan kami yang sebenarnya.’ Setelah itu
mereka mengikuti-Nya.

Kemudian Allah swt. menciptakan sebuah titian yang membentang di atas
api neraka, maka aku –Rasulullah saw.—dan umatku menjadi umat yang
pertama menyeberangi titian itu. Pada saat itu tidak ada seorang pun
yang dapat berbicara selain para rasul, dimana ketika itu para rasul
berdoa, `Ya Allah, selamatkanlah, ya Allah, selamatkanlah. ‘ Sementara
di dalam neraka Jahanam terdapat besi-besi yang melengkung bagaikan
lengkungan pancing, seperti duri pohon Sa’dan (nama pohon yang
berduri). Kemudian Rasulullah bertanya kepada sahabat yang hadir,
`Apakah kalian pernah melihat duri pohon Sa’dan?’ Mereka menjawab, `Ya.’

Mendengar hal itu, Rasulullah saw. bersabda, `Seperti itulah besi-besi
yang melengkung itu, hanya saja besarnya tidak terkirakan, dan hanya
Allah yang mengetahui ukurannya. Besi-besi inilah yang kelak akan
mengait orang-orang yang sedang meniti titian itu sesuai dengan kadar
dosa masing-masing. Dimana orang yang teguh dengan amalnya akan
selamat dari kaitannya, sementara orang yang berdosa akan terkait
(tersangkut), tetapi akhirnya dilepaskan.

Setelah Allah selesai mengadili hamba-hamba- Nya, dan Dia berkehendak
mengeluarkan penghuni neraka dengan rahmat-Nya, maka Allah memberikan
perintah kepada para malaikat-Nya untuk mengeluarkan mereka yang patut
mendapat rahmat-Nya, yaitu orang yang tidak pernah menyekutukan- Nya
dengan sesuatu apapun selama hidup di dunia. Di antara orang yang
patut mendapatkan rahmat-Nya adalah orang yang mengatakan bahwa tidak
ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah. Kemudian para malaikat
yang mendapat perintah itu segera mengenali mereka, dan mereka
mengenalinya melalui tanda bekas sujud yang ada pada kening mereka
karena hanya bekas sujudlah bagian tubuh manusia yang tidak akan
hangus dibakar api neraka, dimana Allah telah mengharamkan api neraka
untuk membakarnya dan menghanguskannya.

Kemudian para malaikat segera mengeluarkan mereka dalam keadaan yang
sudah pada hangus, lalu disirankan ke tubuh mereka air kehidupan (air
pemulihan). Akibat siraman air kehidupan itulah, akhirnya mereka
tumbuh dan pulih kembali seperti sediakala bagaikan tumbuhnya
biji-bijian setelah terjadi banjir besar (dimana mereka tumbuh dalam
keadaan masih muda dan besar).

Setelah Allah selesai mengadili dan memvonis di antara
hamba-hamba- Nya, tiba-tiba terlihat seseorang (yang masih tertinggal)
yang sedang mengarahkan pandangannya ke arah neraka, dan dialah orang
yang paling terakhir masuk surga. Kemudian kepada Allah, dia memohon,
`Wahai Tuhanku, palingkan mukaku dari neraka karena baunya telah
meracuniku, dan kobaran apinya telah membakarku.’ Permohonan itu
diulanginya berulang kali, dan akhirnya Allah berfirman kepadanya,
`Seandainya Aku mengabulkan permintaanmu ini, apakah kiranya kamu
tidak akan mengajukan permohonan yang lain?’ Maka orang itu menjawab,
`Tidak.’ Kemudian dia berjanji dengan sungguh-sungguh kepada Allah
bahwa dia tidak akan mengajukan permohonan apapun lagi.

Akhirnya permohonan itu dikabulkan Allah, dimana Allah memalingkan
muka orang itu dari neraka. Akantetapi ketika dia dihadapkan ke arah
surga dan dia menyaksikan kemegahan yang ada di baliknya, maka dia
terdiam dalam beberapa saat, lalu dia memohon kepada Allah, `Wahai
Tuhanku, sampaikanlah aku ke dalam pintu surga.’ Mendengan hal itu,
Allah berfirman kepadanya, `Bukankah kamu telah berjanji dengan
sungguh-sungguh bahwa kamu tidak akan memohon lagi kepada-Ku selain
permohonanmu yang telah Aku kabulkan tadi? Celakalah kamu, wahai anak
Adam, kamu telah memungkiri janjimu sendiri, dan Aku tidak akan
mengabulkan permohonanmu ini.’ Akantetapi dia tetap memohon kepada
Allah untuk dikabulkan permohonannya, sehingga Allah berfirman
kepadanya, `Seandainya permohonanmu ini Aku kabulkan, apakah kamu
tidak akan memohon yang lainnya lagi kepada-Ku?’ Orang itu menjawab,
`Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku tidak akan mengajukan permohonan lagi.’

Kemudian Allah mengabulkan permohonannya itu. Allah membawanya ke
depan pintu surga. Setibanya dia di depan pintu surga, Allah membuka
pintu surga itu lebar-lebar sehingga orang itu melihat keindahan dan
kebahagiaan yang ada di dalamnya. Menyaksikan itu, orang itu terdiam
beberapa saat, lalu memohon kepada Allah, `Wahai Tuhanku, masukanlah
aku ke dalam surga.’ Mendengar itu, Allah berfirman kepadanya,
`Bukankah kamu telah berjanji bahwa kamu tidak akan mengajukan
permohonan lagi kepada-Ku setelah permohonanmu yang tadi Aku kabulkan?
Celaka kamu, wahai anak Adam, kamu telah memungkiri janjimu sendiri,
dan Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu itu.’

Akantetapi orang itu terus menerus memohon kepada Allah, `Wahai
Tuhanku, janganlah kiranya hamba-Mu ini menjadi orang yang paling
celaka.’ Kemudian ia mengulang-ulang permohonannya, sehingga hal itu
menyebabkan Allah tertawa. Allah berfirman kepadanya, `Masuklah kamu
ke dalam surga.’ Pada saat orang itu masuk ke dalam surga, Allah
berfirman kepadanya, `Sekarang angankanlah segala keinganmu.’ Kemudian
orang itu memohon kepada Allah dengan mengajukan berbagai macam
keinginannya dan mencita-citakan berbagai macam kenikmatan, sampai
Allah mengingatkannya kepada berbagai menikmatan yang tidak
diketahuinya. Lalu Allah berfirman kepadanya, `Nikmatilah olehmu
kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan
ditamabah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.”

Atha’ bin Yazid berkata, “Ketika Abu Sa’id Al-Kudri mendengarkan Abu
Hurairah menuturkan hadits itu, tidak ada bagian dari hadits itu yang
dipertanyakannya, selain firman Allah terhadap orang tadi: `Nikmatilah
olehmu kemewahan dan kenikmatan yang telah disediakan ini, bahkan akan
ditamabah lagi dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu pula.’

Abu Sa’id Al-Kudri berkata, `Wahai Abu Hurairah, apakah kenikmatan itu
dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat?’ Abu Hurairah menjawab,
`Aku tidak mengetahuinya selain aku mendengarnya seperti itu dari
Rasulullah saw., dimana beliau bersabda, ` kemewahan dan kenikmatan
yang telah disediakan ini, bahkan akan ditamabah lagi dengan berbagai
kenikmatan sebanyak itu pula.’ Kemudian Abu Sa’id Al-Kudri berkata,
“Aku bersumpah bahwa aku telah mendengar dari Rasulullah saw. dimana
beliau bersabda, `Nikmatilah olehmu kemewahan dan kenikmatan yang
telah disediakan ini, bahkan kenikmatan ini akan dilipatgandakan
menjadi sepuluh kali lipat dengan berbagai kenikmatan sebanyak itu
pula.'” (Hadits shahih, Shahih Muslim nomor 182; Shahih Bukhari nomor 7437)
Sumber : http://www.dakwatuna.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: